Detail Berita
KOLOM WALIKOTA
22-10-2012

 

REKAYASA MALIOBORO YANG RAMAH BAGI PEJALAN KAKI

 

Malioboro adalah ruh bagi Jogja. Sebuah tempat eksotis yang mewujud sebagai kawasan budaya. Dari waktu ke waktu Malioboro semakin berkembang, bergerak dan tumbuh bersama segenap masyarakat Jogja. Kehidupan yang tak pernah berhenti di jantung Kota Jogja ini, menjadikan Malioboro ada untuk menjadi ruang budaya sekaligus ruang ekonomi.

 

Saya berkomitmen untuk memoles wajah Malioboro agar lebih menonjolkan eksotisme sekaligus memunculkan romantisme yang tersimpan. Dalam waktu dekat ini, saya dan jajaran Pemkot Jogja akan menata Malioboro untuk memunculkan dan menonjolkan citra Malioboro sebagai kawasan budaya. Malioboro akan direkayasa dan ditata menuju kawasan jalur lambat yang lebih ramah bagi pejalan kaki.

 

Kami akan melakukan rekayasa infrastruktur menuju Malioboro sebagai ikon wisata yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Hal ini akan kami lakukan melalui pendekatan rekayasa fisik yang nanti kemudian kami harapkan tumbuh rekayasa perilaku para pengguna Malioboro.

Banyak hal yang akan ditempuh untuk mendukung hal itu. Saya harapkan dalam waktu dekat semua selesai, targetnya dari ujung utara hingga selatan semua bisa tertata. Pemkot Jogja serius melakukan penataan ini.

Jumlah titik zebra cross yang melintas dari jalur cepat ke jalur lambat di sepanjang jalan Malioboro – A. Yani akan diperbanyak, hingga nanti akan ada sekitar 30 zebra cross di jalan sepanjang 1,4 km. Traffic light yang tidak berfungsi, akan dihilangkan. Rambu batas kecepatan maksimal 30 km/jam, warning line akan diaktifkan, dan dilakukan pemasangan pelikan crossing di depan pasar Beringharjo.

Wajah Malioboro yang eksotis di poros garis imajiner yang membentang dari ujung utara di Garuda hinga nol kilometer ini akan lebih dikuatkan dengan memunculkan nilai sebagai kawasan budaya. Benda cagar budaya sebisa mungkin akan dikembalikan bentuk fisik fasad, juga akan dilakukan pengecatan ulang agar lebih nampak bersih.

Untuk itu papan reklame yang lebih banyak berkesan sebagai sampah visual akan diatur lebih ketat lagi. Pengaturan reklame pada prinsipnya bertujuan untuk memperlihatkan wajah budaya Malioboro sehingga menambah estetika, selaras dan teratur. Sedangkan rambu-rambu pariwisata berupa pesan-pesan promotif seperti peduli jalan kaki dan kawasan bersih, akan lebih ditonjolkan.

Pada prinsipnya papan reklame tidak boleh menutupi fasad bangunan cagar budaya. Seiring dengan berkurangnya jumlah reklame, untuk mempermudah informasi bagi pengunjung Malioboro, akan kami buat peta toko sebagai petunjuk arah mencari lokasi toko.

Lighting street furniture akan dilakukan dengan pemasangan tata lighting di kawasan Malioboro ini terutama pada bangunan cagar budaya, jalan dll. Malioboro akan lebih diperbanyak lampu taman hias sorot pohon, modifikasi lampu ini akan membuat Malioboro lebih indah di malam hari. beberapa lampu taman akan kami bongkar dan disisakan lampu antic. Saat ini di sepanjang Malioboro banyak tiang bendera yang kurang berfungsi dengan optimal. Tiang-tiang ini akan dibongkar kecuali beberapa yang ada di depan Gedung Agung.

Mengenai infrastruktur jalan telah dipersiapkan penataan untuk mengoptimalkan jalur lambat agar lebih nyaman akan dilakukan pengaspalan kembali oleh Kimpraswil mulai Pasar Kembang hingga Ngejaman. Pembuatan canstene yang semula lancip menjadi bulat, ini dilakukan oleh BLH, canstene yang ada akan dipotong lebih pendek dan diisi rumput hijau. Diharapkan penataan tahap pertama akan selesai H-10 sebelum lebaran yaitu sampai penggal jalan Dagen. Sedangkan pemasangan batu alam di trotoar akan dilanjutkan kembali mulai dari depan Ramayana hingga titik nol di timur jalan.

Menciptakan malioboro yang nyaman dan hijau agar lebih ramah terhadap pejalan kaki, akan diperbanyak pergola yang ada di pertokoan sepanjang kawasan Malioboro dengan bentuk yang seragam, sehingga lebih rapi dan indah dipandang, juga memaksimalkan fungsinya sebagai penyejuk. Tempat sampah dengan bentuk yang fungsional akan diletakkan di sepanjang jalan.

Menjaga rasa aman bagi pengunjung akan kami lakukan selain pemasangan CCTV di beberapa titik juga dengan menempatkan pos pengaduan semi permanen di bekas bangunan telpon depan Dinas Pariwisata Propinsi DIY, juga perbaikan papan pengaduan dan informasi wisata di sekitar tempat tersebut.

Malioboro sebagai ruang budaya tetap kita pertahankan dengan memberikan tempat bagi benda-benda seni bhiennale berupa “kaki melangkah” di titik nol, patung naga air di depan Dinas Pariwisata DIY, perbaikan tulisan ‘HONOCOROKO”, dan patung kelinci emas di TKP Malioboro, dan juga kami akan pasang bhiennale permanent FKY “Ayam Jago” di depan Hotel Mutiara, juga dimungkinkan ditambah bhiennale lain.

Menegaskan kembali atmosfer ke-Jogja-an kita akan mendorong pelaku Malioboro untuk menggunakan atribut tertentu. Hal ini akan dimulai dengan pencitraan visual melalui seragam Jogoboro (staf keamanan Malioboro) yang akan memakai busana seragam etnik Jogja.

Saya berharap dukungan seluruh warga Jogja untuk ikut serta memelihara dan menjaga Malioboro. Semoga dengan hadirnya Malioboro sebagai ruang publik yang berbudaya akan berkolerasi positif dengan kenyamanan seluruh pengunjung dan berdampak semakin banyaknya kunjungan wisatawan ke Jogja.

Salam Jogja

Salam Haryadi Suyuti  

 

 

abi is agusbudi | Tanya Komputer