Detail Berita
PRESTASI BIOPORI DI RW 11 WIROBRAJAN
26-06-2012

PRESTASI BIOPORI DI RW 11 WIROBRAJAN

 

Warga RW 11 Ketanggungan Wirobrajan boleh berbangga dengan Lubang Tabungan Air (LTA) yang berada di wilayahnya. Pasalnya pengelolaan LTA yang juga sering disebut biopori ini mampu meraih penghargaan pada Walikota Award 2011 lalu sebagai terbaik.

Pada mulanya di RW 11 Wirobrajan dibentuk Team Biopori Jogja (TBJ) yang merupakan inisiatif dari anggota Kelompok Tani Tanaman Hias Maju Lancar, tahun 2008. TBJ kemudian melakukan penyebarluasan Teknologi Tepat Guna Biopori pada masyarakat melalui pelatihan dan membuat brosur. Warga sekitar diberi pemahaman arti pentingnya pembuatan biopori di lingkungannya, sekaligus mereka juga mengikuti pelatihan pembuatan biopori tersebut.

Penggagas TBJ adalah Ibu Ir Indarwati warga setempat. Sebelumnya Ibu Ir Indarwati mengikuti sarasehan Hari Air Dunia XVI 2008 tentang Lubang Resapan Biopori (LRB) yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Berbekal ilmu dari pelatihan itu Ibu Ir Indarwati mengajak anggota kelompok tani Maju Lancar untuk mencoba menerapkan LRB di lingkungannya, kemudian bersama pihak Kelurahan dan LPMK Wirobrajan dilakukan pelatihan biopori bagi warga setempat.  

Menurut penemunya Prof Kamir R Brata, Biopori adalah pori-pori makro berbentuk liang sinambung yang berfungsi untuk mempercepat peresapan air, khususnya air hujan, ke dalam tanah. Sehingga Tanah memiliki ketersediaan banah organik yang cukup dan fauna tanah dapat berkembang dengan baik.

Cara membuat biopori adalah dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah sehingga diperoleh permukaan seluas permukaan dinding lubang. Lubang ini disebut Lubang Resapan Biopori (LRB). Lubang ini akan diisi dengan sampah organik, seperti daun-daun kering,ranting-ranting halus, dan lainnya. Tujuannya adalah memikat fauna tanah, seperti  cacing tanah, untuk memakan sampah organik dalam membentuk biopori, dan melindungi permukaan lubang resapan dari penyumbatan yang diakibatkan sedimen – sedimen halus dan lumut.

Tingkat peresapan air dalam lubang akan menigkat seiring dengan bertambahnya biopori yang telah terbentuk sehingga proses pelapukan sampah organik oleh fauna tanah berlangsung aerobik (kondisi beroksigen). Hasilnya, sampah-sampah organik tersebut akan menjadi kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk. Disamping itu, air yang keluar dari sampah organik tersebut (leachate) akan diserap tanah menjadi perekat/pengikat unsur tanah dan pori tanah. Untuk jangka menengah dan jangka panjang, tentunya akan berimbas pada peningkatan air tanah, sehingga persediaan air tanah akan mencukupi di masa mendatang.

 

abi is agusbudi | Tanya Komputer