Detail Berita
PENDIDIKAN SEBAGAI MODAL PENGENTASAN KEMISKINAN DI KELURAHAN TEGALPANGGUNG
06-03-2012

 

 EBAGAI MODAL PENGENTASAN KEMISKINAN DI KELURAHAN TEGALPANGGUNG

 

 

Potret kemiskinan di Kelurahan Tegalpanggung terlihat cukup memprihatinkan. Puluhan warga miskin menempati tempat tinggal seluas 5 meter bahkan kurang dari itu, sebuah tempat yang kurang layak disebut sebagai rumah. Tingkat pendidikan kepala keluarga yang rendah membuat mereka terjebak dalam kungkungan kemiskinan yang tiada akhir. 

Dua faktor tersebut sangat berpengaruh dalam proses belajar anak-anak di rumah. Pada bangunan seluas itu tempat belajar, kamar tamu dan tata ruang keluarga menjadi satu. Tingkat pendidikan orangtua kurang mendukung pola belajar anak-anak mereka. Selagi jam belajar anak-anak justru para orangtua menonton siaran televisi di ruangan yang sama, bahkan parahnya lagi karena ketiadaan tempat belajar, anak-anak justru berkeliaran di luar rumah pada saat jam belajar.

Hal ini menjadi acuan bagi TKPK Kelurahan Tegalpanggung melalui semangat Segoro Amarto untuk menyelesaikan permasalahan dengan segera. Pendidikan menjadi hal dasar yang harus dibenahi salain tingkat kesehatan warga. Pendidikan sangat penting bagi mereka untuk bekal melepaskan diri dari jurang kemiskinan. Tak hanya pendidikan formal, pendidikan non formalpun sangat diperlukan.  Berbekal hal ini TKPK membuat program untuk meningkatkan derajat pendidikan mereka dengan memanfaatkan dana bantuan Gubernur DIY sebesar 500 juta yang dikucurkan pertengahan 2011 lalu.

Perpustakaan RW sekaligus sebagai ruang belajar yang nyaman segera diwujudkan. Beberapa perpustakaan yang sebelumnya sudah tumbuh semakin dikembangkan. Seperti perpustakaan lansia yang sudah berkembang baik sebelumnya. Buku-buku sebagai faktor penting penunjang perpustakaanpun dilengkapi.

Selain perpustakaan, kegiatan senam dan pemberian makanan tambahan bagi lansia juga mendapat perhatian serius. Kegiatan ini bertujuan agar orangtua tidak cepat menjadi jompo, pikun dan menjadikan beban bagi anak-anaknya. Keberadaan lansia yang sehat dan produktif menjadi sumber daya di wilayah ini. Mereka disalurkan pada pekerjaaan kerajinan tangan dan proses pemanfaatan daur ulang sampah.

Sinergi dengan pengentasan kemiskinan ini telah dilaksanakan kegiatan non fisik berupa :

·       Pengolahan sampah non organik yang dilaksanakan oleh kelompok pengolahan sampah ”Kemuning 10” di RW 10, sedang proses pemilahan sampah telah dilakukan di RW 04, 05, 06, 07, 12 dan 15.

·       Pengolahan sampah organik di 6 lokasi berkat bantuan alat pengolah sampah dari BLH Kota Yogyakarta.

·       Pelatihan bordir, jahit, sablon, teknisi HP, tata rias dan tata boga.

·       Pemberian bantuan bagi UKM.

·       Pelatihan menjahit dan pemberian bantuan bagi Kelompok Keluarga Mandiri.

·       Penumbuhan 9 perpustakaan yang dirintis oleh BKM serta pemberian bantuan pembelian buku melalui dana block grant. Kini telah berdiri 2 perpustakaan baru bagi lansia yaitu Wreda Mulya dan Wreda Pustaka.

·       Kegiatan pembinaan mental spiritual melalui pengajian LP2A bagi umat islam, dan sembahyangan bagi umat Kristen dan Katolik.

·       Kegiatan paguyuban kesenian melalui penggalian potensi di masing-masing RW.

·       Pemberian modal bagi 30 lansia potensial pada 2008 dan kini telah berkembang menjadi 33 orang lansia.

·       Pemberian bantuan bagi kelompok PEW, KUBE FM, KUBE Anjal.

·       Bantuan teknologi tepat guna bagi perempuan.

·       Bantuan modal usaha bagi difable.

 

 

abi is agusbudi | Tanya Komputer