Detail Berita
WALIKOTA PRIHATIN DENGAN MEROSOTNYA NILAI KEJUJURAN
05-01-2012

 

Walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto merasa prihatin dengan tergerusnya nilai kejujuran di masyarakat, terutama di kalangan kaum muda dewasa ini. Tergerusnya nilai kejujuran ini juga merupakan salah satu faktor penyebab terpuruknya bangsa Indonesia. Keprihatinan ini disampaikan Walikota saat menerima beberapa Tokoh Agama di ruang kerjanya, Kamis, (10/11).

Walikota mengatakan sekarang ini bangsa kita banyak mendapat prestasi namun bukan prestasi yang baik tapi prestasi yang buruk yang raih. Sementara, di banyak masjid, gereja dan tempat ibadah kita selalu diajarkan tentang kebaikan. “Kenapa tidak ada korelasi positip antara nilai yang diajarkan dengan tindakan nyata?,” tanya Walikota.

Untuk itu, perlu membangun kembali karakter kebangsaan kepada masyarakat dan dimulai dari dunia pendidikan. Menurut Walikota, perlu sekali diadakan evaluasi karakter bangsa kepada anak didik lulusan Yogyakarta. Apakah anak-anak lulusan Yogyakarta selain lulus dengan nilai yang baik dan memuaskan, sudah lulus pula dalam pembentukan karakternya? Pendidikan karakter ini perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak dan bukan saja menjadi tugas Pemerintah.

Herry memberikan contoh kecil, ketika berlangsungnya ujian sekolah, ada anak sekolah yang membawa lebih dari satu handphone dengan tujuan mendapatkan jawaban dari alat tersebut. Anak merasa sesuatu yang bukan asosial lagi dan tanpa ada sesuatu yang keliru dengan nilai kejujuran. Anak anak merasa melanggar nilai kejujuran merupakan hal biasa. Menurutnya ada sesuatu yang salah dan harus dibenahi, salah satunya adalah mengubah kurikulum tentang pengajaran agama.

Herry menambahkan perlu adanya kurikulum berbasis afeksi dalam menilai seorang anak lulus atau tidak dalam menempuh pendidikan di sekolah. Orang tua, tetangga dan orang sekitarnya bisa memberikan penilaian terhadap anak tersebut. Kurikulum ini juga mengharuskan anak didik melakukan kegiatan sosial, sehingga apa yang dipelajari dalam agama harus dipraktekan dan bukan sekedar sebuah hapalan semata. Mengajarkan nilai kegamanaan bukan saja bicara ritual Ketuhanan saja tetapi harus menyentuh Kemanusiaannya.

Senada dengan Walikota Yogyakarta, Romo Gregorius Suprayitno, Pr, Tokoh Masyarakat Katolik dan pastor paroki Gereja Katolik Baciro mengamini apa yang dikatakan Herry. Menurut Romo Yitno dewasa ini nilai kejujuran di masyarakat dirasa seperti barang yang mahal, langka dan sulit dijangkau. Kondisi seperti ini terjadi di semua kalangan tidak memandang usia dan latarbelakang. ”Ini memang menjadi keprihatinan kita bersama, lebih memprihatikan lagi terjadi juga di sekolah-sekolah, para pendidik yang tidak bisa menjadi teladan soal kejujuran. Lha, itukan berarti menanamkan ketidakjujuran kepada anak-anak juga,” ujar Romo Yitno.

Romo Yitno menambahkan terjadi kemerosotan nilai bisa diakibatkan karena nilai-nilai kebaikan selama ini tidak diberi tempat yang layak di hati anak didik. Anak didik lebih sering dibebani dengan pengetahuan bersifat hapalan dan hitungan. Sedangakan pendidikan perasaan (afeksi) tidak mendapat tempat yang layak.

Untuk itu, menurut Romo, perlu diberi penekanan terhadap nilai kejujuran. Keutamaan kejujuran harus menjadi hal yang utama untuk disampaikan kepada umat karena sangat penting dan sangat berkaitan dengan nilai-nilai yang lain. “Orang yang tidak jujur, pasti tidak adil, akan lebih mementingkan kelompoknya sendiri, keluarganya, dan komunitasnya,” tambah Romo Yitno.

Romo berharap Pak Herry dapat memberikan surat yang berisikan tentang nasehat pentingnya nilai kejujuran dan akan disampaikan kepada seluruh komponen masyarakat Yogyakarta termasuk umat gereja di wilayah yang dipimpinnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) menyerahkan dana bantuan sosial kepada Panitia Perkemahan Santri Pondok Pesantren Kota Yogyakarta sebesar Rp. 10.760.000,- dan Rp. 18.170.000,- kepada panitia Pekan Olaraga dan Seni (Pospeda) Santri Pondok Pesantren Kota Yogyakarta. Sedangkan, Gereja Katolik Baciro mendapat bantuan Rp. 10 juta yang akan digunakan untuk pembangunan gereja pasca gempa. Dana ini diterima langsung oleh Romo Gregorius Suprayitno, Pr. (@mix)



 

abi is agusbudi | Tanya Komputer