Detail Berita
SULAM PITA PRODUK UNGGULAN GIWANGAN
22-12-2011

 

Kerajinan sulam pita di kelurahan Giwangan mampu memberi pekerjaan sampingan bagi ibu-ibu, tentunya kegiatan ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga. Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pengrajin pita sulaman ini mempunyai pekerjaan pokok sebagai penjahit. Namun di sela itu mereka dengan tekun merangkai pita aneka warna dan menusukkannya dengan jarum ke kain-kain yang berpola. Rangkaian pita dan benang ini membentuk mozaik berupa gambaran bunga-bunga yang indah.

Rangkaian bunga-bunga indah dari sulaman pita yang melekat pada kain ini kemudian dibentuk aneka barang seperti tas wanita, tas laptop, dompet, taplak meja, sajadah maupun jilbab. Setiap produk dijual dengan harga 15 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung tingkat kesulitannya. Tas wanita dijual dengan harga kisaran 75 ribu, dompet 25 ribu, dan sajadah 60 ribu. Selain itu mereka juga menerima pesanan pembuatan payet dekoratif untuk baju pengantin tradisional dan gaun pesta dengan ongkos jasa yang tergolong murah.

“Kami masih mengandalkan pesanan untuk memproduksi aneka barang ini. Menjelang lebaran biasanya pesanan meningkat hingga kami kewalahan,” ujar Ibu Purbudi Wahyuni koordinator para para pengrajin.

Kapasitas produksi kerajinan ini memang sangat terbatas, hal itu lebih disebabkan karena setiap produknya memerlukan kejelian, ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya. Satu jenis sulaman pita terkadang membutuhkan waktu hingga 1 minggu untuk pembuatannya. Terlebih kerajinan ini masih sebagai kegiatan sampingan.

Kelompok pengrajin sulaman pita ini awalnya terbentuk sejak 2006. Terdiri dari ibu-ibu buruh jahit yang tinggal di sekitar Sungai Gajahwong wilayah kelurahan Giwangan. Berbekal niat untuk ingin maju dan lebih sejahtera mereka mengikuti pelatihan ketrampilan sulam pita dan payet. Pada mulanya mereka menerima bantuan dari PNPM Mandiri berupa dana yang kemudian digunakan untuk mendatangkan tutor ahli dari luar kota. Pelatihan ini benar-benar dimanfaatkan maksimal sehingga usai pelatihan mereka telah mampu membuat aneka produksi sulam pita dan payet. Bahkan sisa dana bantuan juga diwujudkan untuk pembelian peralatan sehingga masing-masing peserta mempunyai peralatan sendiri. Kemudian bantuan mengalir dari PEW (pemberdayaan ekonomi wilayah) dan dimanfaatkan oleh para pengrajin untuk membeli bahan baku.

Kini kelompok ibu-ibu pengrajin sulam pita dan payet ini semakin eksis. Disela pekerjaan pokok sebagai penjahit dan mengurus rumah tangga mereka mempunyai kesibukan yang bermanfaat untuk meningkatkan derajat kehidupannya. *



 

abi is agusbudi | Tanya Komputer