Detail Berita
Kolom Walikota
29-11-2011

 
“SEGORO AMARTO”
GERAKAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN BERBASIS MASYARAKAT
 
Akhir tahun 2010 lalu Pemkot Yogyakarta meluncurkan gerakan “Segoro Amarto” (Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyakarta). Sebuah gerakan untuk penanganan kemiskinan dimana model penanganannya melibatkan seluruh komponen masyarakat di wilayah bersangkutan. Gerakan ini bersifat inklusif, tidak mengklasifikasikan masyarakat miskin sebagai obyek, namun menjadi bagian dari subyek pembangunan yang mesti diberdayakan. Kebersamaan dalam Segoro Amarto dikonsepkan dalam proses pemberdayaan yang menghilangkan bentuk-bentuk stratifikasi sosial. Warga yang lebih berdaya dan lebih mampu diharapkan dapat menstimulasi warga yang kurang berdaya sesuai kemampuan untuk bersama bergerak maju mencapai kesejahteraan bersama.

Di 3 kelurahan yang telah menerapkan Segoro Amarto sekaligus dijadikan Pilot Project yaitu Kricak, Tegalpanggung, dan Sorosutan terbukti angka kemiskinan bisa mengalami penurunan yang cukup tajam dan lebih cepat daripada 42 kelurahan lainnya. Selama 3 tahun Segoro Amarto disengkuyung oleh warga masyarakat tersebut. Saya harapkan segera di setiap kecamatan nantinya terwakili satu kelurahan yang menerapkan nilai-nilai Segoro Amarto ini.

Segoro Amarto bukanlah suatu kegiatan atau proyek, tetapi sebuah gerakan nilai untuk merestorasi moral atau pola pikir masyarakat dengan mendasarkan 4 pilar yaitu kemandirian, kedisiplinan, kepedulian, dan kebersamaan. Selama ini upaya untuk menurunkan angka kemiskinan penduduk cenderung dilakukan secara parsial dan terkesan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. "Ini adalah kegiatan dari bawah ke atas, sehingga masyarakatlah yang akan menyusun kebutuhan-kebutuhannya untuk peningkatan kesejahteraan.

Saya ingin warga harus bersatu padu, warga satu bisa memberi apa bagi warga lain. Tidak harus berupa modal namun lapangan pekerjaan, pengetahuan dan sebagainya. Semangat inilah yang ingin ditumbuhkembangkan. Karenanya paradigma penanggulangan kemiskinan kita balik. Bukan "aku menerima apa?" tapi "aku bisa memberi apa?" Dalam segoro amarto dibangun jiwa kemandirian, kedisiplinan, kepedulian, dan kebersamaan “Kita peduli, kita bekerjasama, kita berdaya”.

Segoro Amarto merupakan sebuah gerakan dengan substansi paseduluran dengan basis pelaksanaan di tingkat RW yang melibatkan seluruh komponen warga. Sehingga mekanisme pelaksaanaannya berada di tingkat masyarakat dan dilakukan oleh kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang memiliki tekat, tantangan dan kebutuhan yang sama dengan basis RW. Kelompok tersebut melibatkan seluruh komponen yang ada dalam masyarakat seperti intelektual, pemuka masyarakat, tokoh agama, masyarakat miskin dll, yang memiliki kepedulian terhadap upaya penanggulangan kemiskinan dan upaya-upaya lain menuju masyarakat madani.

Pemerintah Kota Yogyakarta sangat konsen dengan gerakan tersebut, dan akan terus mengembangkan gerakan ini. Kedepan saya harapkan gerakan ini cakupannya akan lebih diperluas lagi. “Semangat gotong royong yang mengedepankan kata ’KITA” daripada “AKU” sudah menjadi ciri masyarakat Indonesia yang sosial. Walaupun Bangsa Indonesia kini justru mengalami krisis, sehingga lebih mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja”.

Karenanya itu, melalui gerakan ini semoga dapat ditumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan, serta kemandirian, kedisiplinan, dan kepedulian sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Didukung oleh sikap masyarakatnya yang dapat dicontoh dan diteladani oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Pada jajaran Pemkot pun gerakan ini dapat diwujudkan dalam bentuk mendahulukan masyarakat, memudahkan pelayanan, dan mengutamakan pencapaian kerja. “Prinsipnya adalah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, melalui budaya kerja yang rajin, inovatif, disiplin, kerja sama, dan saling koordinasi. Saya berharap, gerakan Segoro Amarto bisa menjadi sumbangsih Yogyakarta untuk Indonesia. Dengan demikian, Yogyakarta pun semakin diakui keistimewaannya.



 

abi is agusbudi | Tanya Komputer