Detail Berita
ABON NABATI DARI KAMPUNG MRICAN
29-11-2011

 

 

Pohon kluwih yang banyak tumbuh di sepanjang bantaran Sungai Gajahwong di kampung Mrican Kelurahan Giwangan ternyata mampu membawa berkah bagi warga. Buah kluwih yang tadinya sekedar dijadikan sayur kini naik kelas menjadi makanan yang lezat tak kalah dengan hasil olahan daging. Kelompok ibu-ibu di RW 8 Mrican mampu mengolah buah kluwih menjadi abon nabati yang lezat. Rasanya yang gurih dan legit hampir tak bisa dibedakan dengan abon yang terbuat dari daging sapi.

Mereka adalah 20 orang ibu-ibu yang tergabung dalam KUB Giwangan Makmur. Terdiri dari 5 kelompok usaha pembuatan abon nabati yaitu kelompok Linuwih, Aditya, Sabar Jaya, Rizki, dan Putra Tunggal. Perharinya setiap kelompok mampu memproduksi 5 kg abon nabati. Abon ini mempunyai 3 cita rasa pilihan yaitu abon nabati murni tanpa campuran daging, abon nabati rasa ayam, dan abon nabati rasa sapi. Abon nabati murni banyak diburu oleh para penggemar makanan vegetarian. Tanpa bahan pengawet sintetis produk ini bisa tahan hingga 3 bulan. “Kami memanfaatkan awetan alami dengan gula dan garam,” jelas Ibu Purbudi Wahyuni (51 thn) pelopor pembuatan abon ini. Setiap kilonya abon ini dijual dengan kisaran harga 80 ribu di pasaran. Setiap kilogram buah kluwih mampu menghasilkan olahan abon sebanyak 1 ons.

Cara pembuatannya juga sederhana tidak berbeda dengan pembuatan abon sapi biasa. Buah kluwih yang benar-benar matang dikupas lalu dikukus sampai matang. Kemudian diambil daging buahnya, setelah terpisah dengan isinya dicuci bersih dan dipres sampai kering. Bumbu berupa kacang tolo giling halus, bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula jawa dan gula pasir serta sedikit garam. Buah kluwih dan bumbu diuleni hingga kalis kemudian goreng di minyak panas. Setelah matang angkat dan keringkan dengan alat pres. Abon siap untuk dikemas dan dipasarkan.

Dituturkan Ibu Purbudi, KUB Giwangan Makmur ini terbentuk usai gempa besar 2006 lalu. Berangkat dari kegelisahan warga di sekitarnya yang harus segera bangkit dari bencana, muncullah ide kreatif untuk membuat abon. Kegiatan ini mendapat perhatian dari pemerintah dengan mengalirnya beberapa bantuan untuk meningkatkan usaha. Meski dana yang tersedia terbatas namun Ibu Purbudi dan kawan-kawannya mampu memanfaatkan secara optimal untuk pembelian alat-alat pendukung usaha. Peningkatan kualitas produksi juga terus dilakukan dengan mendatangkan ahli gizi, juga pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan tekstur hasil olahan abon. KUB Giwangan Makmur tak segan menjalin kerjasama dengan dinas terkait maupun dengan universitas. Hingga kini kelompok Linuwih telah berhasil memperoleh sertifikasi halal untuk produk abonnya, sedang kelompok lain masih dalam proses pengajuan. Dengan kemasan yeng lebih cantik produk abon nabati ini bisa menjadi oleh-oleh alternatif dari Jogja.

Ibu Purbudi yang rumah tinggalnya digunakan untuk “rumah pintar” bagi warga sekitar ini berharap ke depan ingin rumahnya mampu menjadi ruang publik yang berguna bagi orang lain. Wilayah kampungnya juga bisa dikembangkan menjadi sentra produksi abon nabati sebagai bagian dari pengembangan tempat wisata kuliner. Pemberdayaan perempuan yang dilakukan Ibu Purbudi dengan KUB Giwangan Makmur ini patut menjadi contoh bagi wilayah lain. “Saya hanya ingin mengajak orang lain untuk lebih berdaya sebagai bagian dari ibadah,” pungkasnya.



 

abi is agusbudi | Tanya Komputer