Detail Berita
Menghadirkan Tujuh Keajaiban Dunia
29-11-2011

 

 

Fragmen persembahan warga Gunungketur ikut memeriahkan pentas seni HUT Kota Jogja

 

JOGJA JAVA CARNIVAL PEMERSATU BUDAYA DUNIA
Menghadirkan Tujuh Keajaiban Dunia

Perlahan mentari meninggalkan Kota Yogyakarta. Hari mulai beranjak malam. Jarum jam sudah mendekati pukul 18.00 wib. Temaran cahaya lampu antik kota memancarkan sinar kekuningan. Cuaca cerah berawan membuat udara sedikit panas. Di saat bersamaan ribuan orang dari berbagai latar belakang menunggu dengan tak sabar di pinggir jalan sepanjang Taman Pakir Abu Bakar Ali menuju Malioboro, melewati Titik Nol Kilometer hingga Alun Alun Utara Kota Yogyakarta. Ada yang berdiri, ada yang duduk. Alat perekam digital dan manual sudah siap di tangan, siap mengabadikan peristiwa budaya yang dikemas dalam acara Jogja Java Carnival (JJC) 2011 dan sekaligus menjadi puncak dari rangkaian peringatan hari ulang tahun ke – 255 Kota Yogyakarta di hari Sabtu (22/10).
Usai sambutan dari Walikota Yogyakarta, H. Herry Zudianto dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebuah persembahan tari kolosal yang diberi judul “Jogja Untuk Indonesia” membuka rangakaian JJC. Tari garapan koreografer Gita Gilang dari Sanggar Seni Gita Gilang ini dikemas dalam bentuk pertunjukan tari medley dengan melibatkan 178 penari. Tarian ini terbagi dalam 10 jenis repertoar yang terdiri dari 4 tarian garapan dan 6 tarian pendek dari daerah terpilih dari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa (IKPM) yang ada di Kota Yogyakarta, seperti Papua, Jawa Barat, NTT, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Aceh. Tampilnya garapan tari “Jogja Kokoh” menjadi klimaks dari sajian ini. Menutup sajian pembuka, semua penari menari bersama dalam satu jenis garapan “Poco- poco Modern” sebagai simbol persatuan sekaligus kekuatan dari keragaman budaya yang ada di Yogyakarta.
Kurang lebih pukul 20.45 wib peserta JJC 2011 yang mengangkat tema “Magnificence World atau disingkat Magniworld ( Keindahan Dunia) dimulai. Kelompok pertama tergabung dalam kategori Main Creative Vehicles (kendaraan hias utama) bergerak menuju podium utama yang berada di Alun Alun Utara Yogyakarta. Barisan terdepan persembahan Bank Indonesia dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah DIY yang didukung oleh Mataram Incline Skate Club (MIC) mengusung tema Magnificence Batik (keindahan batik). Replika Garuda raksasa yang menunjukkan kekhasan batik, dilengkapi dengan sejumlah pembatik yang sedang membatik diatasnya merupakan pilihan yang tepat mengingat pengakuan UNESCO (02/10/2009) yang menetapkan batik sebagai mahakarya warisan budaya manusia Indonesia.
Sanggar Art Merdeka yang mengusung tema Disco Troya menampilkan sebuah kuda kayu raksasa yang dikenal dengan Kuda Troya, mengingatkan kita akan legenda perang Troya dalam mitologi Yunani. Tak mau kalah dengan Art Merdeka, Jogja Broadway yang mengusung tema Liberty Statue (patung Liberty) dengan sub tema Liberty di jalan Kebudayaan Yogayakarta. Uniknya patung liberty ini terlihat berada di atas sebuah andong dan figur pendamping berkostum bahan perabot rumah tangga seperti ember, panci, sapu, bak cuci, gayung dan lainnya.
Sekumpulan orang kreatif yang menyukai kartun, komik, grafis serta animasi yang tergabung dalam MULYAKARYA mengusung tema “Serigala Babilonia” dan “Taman Gantung Babilonia”. Taman Gantung yang dibangun oleh raja Nebukatnezar juga merupakan salah satu keajaiban dunia. Dibelakangnya, Sanggar Dewa, rumah para pelajar dan mahasiswa asal Bali di Yogyakarta juga tak mau ketinggalan. Dengan karya bertemakan “Memorabilia of Moses : Fallen of The Firaun yang diimplementasikan dalam sebuah patung Sphink dan Piramida cukup menghibur penonton.
Tembok Besar China (The Great Wall of China) salah satu keajaiban dunia dengan segala pernak perniknya membelah lautan manusia di sepanjang jalur karnaval. Didampingi puluhan orang yang mengenakan kostum kebesaran prajurit kekaisaran China suguhan Paguyuban Hakka Jogjakarta (PHJ) ini mampu mengalihkan imajinasi penonton Yogyakarta menuju ke daratan China.
Selain kategori Main Creative Vehicles, ada 15 kontestan Jogja Java Carnival 2011 dilombakan dan masuk dalam kategori Kontestan Lomba. Kelima belas kontestan itu adalah Sanggar Tari Gallarumarada dari Nusa Tenggara Timur mengusung tema Komodo, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Candi Ratu Boko mengusung tema The Great Stone in the World, Komunitas Teplok Yogyakarta mengambil tema Masa Keemasan Kolosseum, Yayasan Pelita Bangsa dengan tema Jogja To The World, OMM 114 dengan tema The Other Side, Emprit Sett Panggung dengan tema Kapal Jung Java Mata Rantai Mataram, SMSR Yogyakarta dengan tema Menara Pisa, Persatuan Pemuda Pemudi Prancak Dukuh Bantul Yogyakarta dengan tema Adi Budha Candi Borobudur, Satya Wacana Carnaval dengan tema Taj Mahal dan Borobudur, Komunitas Rumah Garuda dengan tema Sang Garuda, Sanggar Seni Budaya Besapen dengan tema Gajah Siger, Taman Pintar Yogyakarta dengan tema The King of Maginificent World’s, Keluarga Putra Bali dengan tema Narashima Avatara, Dr. Design dengan tema The Magnificence of Bee, dan Bale Seni Condroradono Yogyakarta yang menapilkan karya bertemakan Garda Manunggal,

Beberapa seniman, kelompok dan paguyuban seni juga ikut memeriahkan di JJC 2011. Mereka tergabung dalam kategori Partisipan JJC 2011. Yang temasuk kelompok ini adalah perwakilan seniman dari negara Suriname, Ekspatriat Yogyakarta, AAU Yogyakarta, Komunitas Seni Budaya Lubuk Pakan Deli Serdang Medan, Kabupaten Jambi, IKPM Lampung, Pemkot Kediri, Pemkot Surabaya, Kota Waringin Timur kalimantan, Solo Batik Carnaval, Komunitas Badut Jogja, Klithikan Yogyakarta, Rumah Pelantjong Yogyakarta, Komunitas Wushu, dan Falundafa.
Walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto dalam sambutannya mengatakan hari ulang tahun sebuah kota harus dimaknai sebagai penanda bagi daerah untuk melakukan instrospeksi akan masa lalu yang merupakan sebuah mata rantai yang tak terpisahkan dalam perkembangan sebuah wilayah. Hari ulang tahun harus menjadi sarana mawas diri untuk merancang masa depan di Kota Yogyakarta dengan berlandaskan pada pluralisme. Dikatakan, perhelatan akbar Jogja Java Carnival sebagai puncak peringatan HUT ke-255 Kota Yogyakarta menunjukan kecintaan warga terhadap Yogyakarta.
Walikota juga berterima kasih kepada seluarah warga Yogyakarta yang ikut berpartisipasi menyukseskan rangkaian peringatan HUT Kota Yogyakarta. Terutama para seniman yang membangun seninya diatas budaya Yogyakarta. “Yogyakarta adalah rumah seni untuk semua”. Walikota berharap Kota Yogyakarta semakin kokoh sebagai kota Pariwisata berbasis budaya.
Usai menyambut Walikota Yogyakarta menyerahkan dokumen Grand Design yang berisikan rencana jangka panjang pengembangan JJC kepada Wakil Walikota Yogyakarta H. Haryadi Suyuti yang akan menjadi Walikota menggantikan Herry Zudianto. Grand Design ini berisikan rancangan JJC yang terbagi dalam empat periode : 2008-2011, 2012-2016, 2017-2022, dan 2023.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan kegiatan JJC menunjukkan kepada dunia bahwa Kota Yogyakarta adalah kota yang berbudaya dan penuh toleransi. Dirinya berharap Kota Yogyakarta akan memiliki kharisma sebagai kota yang berbudaya.
Acara JJC 2011 ini dihadiri pula GKR. Hemas beserta keluarga, para kerabat Dalem Keraton Yogyakarta, Pejabat Pemerintahan, DPRD Propinsi DIY, MUSPIDA, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Seniman, Wisatawan dalam dan luar negeri, serta masyarakat Yogyakarta. (@Mix/Tim)

abi is agusbudi | Tanya Komputer