Detail Berita
KAMPUNG NUSANTARA RW 16 KEMETIRAN KIDUL :
15-11-2011

 

Memasuki pelosok wilayah RW 16 kampung Kemetiran Kidul kita serasa berada di kawasan pedesaan yang hijau sejuk dan rindang. Suasana pedesaan terasa kuat karena masih banyak pohon-pohon besar tumbuh menjulang di tengah himpitan rumah penduduk yang padat. Setiap jengkal tanah yang tersisa dari padatnya bangunan terlihat hijau dan asri oleh tanaman warga yang tertata rapi dan bersih. Semua rumah warga tampak menanam, merawat dan memelihara tanaman hijau. Di kampung yang terdiri dari 3 RT ini tercatat ada 350 KK yang bertempat tinggal. Mereka terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa yang hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Mereka hidup bersama saling menghargai dan aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungannya. Keberagaman latar belakang dan budaya yang tumbuh di kampung ini menjadikan dikenal sebagai Kampung Nusantara.   Gotong royong yang kuat dan kebersamaan warga dalam menjadikan kampung ini menjadi kampung yang hijau dan asri telah membuahkan prestasi. Beberapa penghargaan diraih selama kurun 2007 hingga 2010. Diantaranya penghargaan Walikota Award sebagai Terbaik Lomba Pengelolaan Sampah Mandiri 2010, Penghargaan Walikota Award sebagai Terbaik Lomba Pengelolaan Ruang terbuka Hijau 2010, Penghargaan Walikota Award sebagai Terbaik Lomba Pengelolaan Tabung Air 2010, Best of The Best Jogja Green And Clean 2010. Subagyo ketua RW 16 menuturkan bahwa kesadaran warganya cukup tinggi untuk memperbaiki kualitas lingkungan dengan mewujudkan kampung hijau. Pihaknya bersama warga telah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri dengan sistem 3R. Hingga pada tataran rumah tangga pemilahan dan pengolahan sampah organik maupun non organik telah dilakukan. Sampah organik rumah tangga diolah dengan komposter takakura menjadi kompos, sampah yang tak dapat terolah di rumah kemudian diolah dengan komposter komunal yang lebih besar. Sedang sampah non organik seperti plastik, kaca dsb telah dipilah dengan memanfaatkan tas pilah di masing-masing rumah. Kompos yang diproduksi dari hasil pengolahan sampah ini dimanfaatkan warga untuk memberi nutrisi pada tanaman di lingkungannya.

Pengelolaan lingkungan menjadi perhatian serius warga dengan dibentuknya ’Gema Suling’ (gerakan masyarakat sudi lingkungan). Program kerja gema suling berkaitan dengan upaya pelestarian air, penghematan air dan pendayagunaan ulang air (3P). Selain itu juga melakukan kegiatan intensif untuk menghijaukan lingkungan dengan menjaga kelestarian pohon langka, merawat tanpa merusak pohon dan taman, serta melakukan penanaman pohon baru. Gerakan masyarakat ini berusaha membentuk perilaku masyarakat yang sadar lingkungan dan keberlanjutanya ke depan. Untuk itu di setiap RT dibentuk 3 orang kader yang bertugas memberikan penyuluhan kepada warga di wilayahnya. Bahkan saat ini Gema Suling telah memiliki bengkel yang dimanfaatkan untuk pengelolaan dan pengolahan sampah mandiri serta pembuatan komposter juga menjaga ketersediaan alat-alat untuk pengolahan sampah. Ke depannya diharapkan bengkel ini dapat dimanfaatkan sebagai workshop hasil pengolahan sampah dan media pemasaran produk hasil daur ulang sampah. (ism).

abi is agusbudi | Tanya Komputer