Detail Berita
KELOMPOK BELAJAR REJOWINANGUN
15-11-2011

 

Beruntunglah anak-anak di sekitar RW 7 Rejowinangun. Mereka mempunyai fasilitas belajar yang kreatif dan ruang berekspresi untuk mengembangkan minat dan bakat. Usai pulang sekolah dan saat libur ratusan anak-anak kampung dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi kini dapat bermain dan berkegiatan positif bersama Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR). Anak-anak yang sebelumnya bermain tak terarah tanpa pengawasan orangtua, di KBR mereka dapat bermain sembari mengisi nutrisi bagi otak. Sebuah perpustakaan dengan koleksi buku anak-anak yang cukup banyak tersedia di KBR yang berdiri sejak 2005 ini. Di perpustakaan sederhana ini anak-anak betah berjam-jam bergulat asyik dengan buku. Tak hanya sekedar membaca saja mereka bisa berdiskusi dan saling bertanya. Mutia Sukma (18 th) sang perintis sekaligus pengelola perpustakaan ini selalu sedia meluangkan waktu membimbing langsung anak-anak tersebut untuk mempelajari lebih dalam materi dalam buku. Mereka juga belajar menulis puisi dan cerita, juga bersama belajar menggambar. Kiprah KBR tidak hanya mengajak anak-anak belajar di perpustakaan saja. Bersama Mutia mereka juga berlatih teater. KBR pernah mengikuti pentas teater anak dan remaja dalam rangka Hari Anak Nasional 2008. Mereka juga belajar sejarah dengan mengunjungi langsung bangunan peninggalan sejarah di sekitar wilayahnya. Kegiatan lain juga dilakukan seperti berlatih olahraga badminton, belajar memasak, berlatih menari dan membaca puisi. Di KBR kemampuan anak diberdayakan sesuai minat dan bakatnya. Anak-anak bebas memilih permainan dan kegiatan yang mereka suka, dengan begitu daya kreasi mereka semakin berkembang. Merekapun tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mempunyai cara pandang positif.  “Awalnya hanya sedikit anak yang bergabung dengan KBR, namun dengan berbagai kegiatan yang menarik kini telah ratusan anak yang aktif belajar bersama disini,” tutur Mutia.  Kegiatan KBR berlangsung di tempat yang sederhana, pembelajaran bisa dilakukan dimana saja seperti di halaman sekitar rumah Mutia, di ruang tamu, ataupun di ruang publik kampung. Meski tanpa jadwal belajar yang pasti, KBR mampu membawa peserta didiknya meraih prestasi. KBR bukan organisasi profit, semua kegiatan digerakkan sendiri dengan seadanya dari dana pribadi Mutia. Beruntung ada kepedulian dari beberapa temannya juga dukungan penuh dari orangtuanya. Dengan niat tulus dan harapan yang sederhana Mutia dan KBR-nya bisa memberikan ruang bagi anak-anak yang ‘tersisih’ dari lingkungannya. Mereka anak-anak yang seringkali dicap bandel dan nakal serta dijauhi teman sepermainannya. Mereka anak-anak yang datang dari beragam latar belakang keluarga, ada yang orangtuanya pengamen, buruh pabrik, dan juga single  parent. Mutia selalu berharap ada kepedulian dari berbagai pihak, bukan berwujud materi tapi cukup dengan menghargai keberadaan dan kiprah mereka.

Kiprah Mutia ternyata mendapat pengakuan dari pemerintah. Apresiasi terhadapnya dinyatakan dengan terpilihnya Mutia Sukma sebagai peringkat pertama Pemuda Pelopor bidang Pendidikan tingkat Kota Yogyakarta dan tingkat Propinsi DIY tahun 2011. Dan Mutia berhak mengikuti pemilihan pemuda pelopor tingkat nasional. (ism)

abi is agusbudi | Tanya Komputer