Detail Berita
‘KULIHAT’ KAMPUNG TEGALKEMUNING
03-10-2011

 

Beberapa waktu lalu Kampung Tegalkemuning di Kelurahan Tegalpanggung terpilih menjadi salah satu pilot proyek dalam Segoro Amarto. Kerukunan masyarakatnya yang menonjol menjadi potensi untuk terealisasikannya nilai-nilai Segoro Amarto. Di Tegalkemuning penurunan angka kemiskinan melaju cukup tajam sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2007 tercatat angka kemiskinan mencapai 1200 KK bahkan sempat menjadi kampung dengan jumlah angka kemiskinan tertinggi di Kota Yogyakarta. Namun pada 2010 lalu jumlah warga pemegang KMS tinggal 666 KK. Kerja keras dan kolaborasi dari warga, pengurus kampung serta aparat setempat menjadi kunci utama dalam penanggulangan kemiskinan di wilayah ini.

Kampung Tegalkemuning meliputi wilayah RW 8, RW 9 dan RW 10. Masing-masing wilayah RW tersebut memiliki keunggulan yaitu RW 8 sebagai Kampung Kesehatan, RW 9 sebagai Kampung Kuliner, dan RW 10 sebagai Kampung Lingkungan hingga dikenal dengan Kampung KULIHAT. Semua potensi yang ada di wilayah tersebut dieksplorasi kemudian dikembangkan hingga mampu kekuatan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

RW 8 berani mendeklarasikan diri sebagai Kampung Kesehatan. Di wilayah ini ada kesepakatan warga untuk menjadikan kampung bebas rokok. Warga yang merokok tidak boleh dilakukan di dalam rumah sehingga rumah warga disini selalu bebas dari asap rokok. Pos kesehatan juga tersedia gratis bagi warga. Setiap hari minggu pagi di pos kesehatan ini dilayani pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Semua serba gratis baik untuk pelayanan dokter maupun obat-obatan.  Ketersediaan air bersih juga terjaga dengan baik. Pokmair yang sudah berjalan selama 3 tahun terakhir telah mampu menyediakan air bersih bagi 21 KK dengan harga yang sangat murah, hanya Rp.1000,- per meter kubik. Ketua RW 8 Sumilan menjelaskan layanan di wilayahnya ini berkat hasil swadaya dari warga dan bersifat sosial sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga.

RW 9 menjadi pusat produksi berbagai kuliner sehingga dikenal sebagai Kampung Kuliner. Bermacam produksi makanan menjadi tumpuan hidup bagi beberapa warga. Di wilayah ada produksi bakpia dengan merk dagang Puyangan, ada warung Lopes yang menjajakan olahan ikan goreng dengan harga terjangkau. Masih ada lagi warung makan dan juga produksi rumah tangga berbagai jajanan pasar seperti moto kebo, sus fla, songgo buwono, nogosari, arem-arem dan lainnya. Produk berbagai makanan ini telah dipasarkan di sekitar Jalan Hayam Wuruk Sebagai pusat Jajanan Pasar Kuliner Tegalkemuning. Budi Santoso, ketua RW 9 mengatakan potensi kuliner di wilayahnya telah berhasil membuka lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup warga. Pihaknya juga berharap kedepan pemasaran potensi kuliner ini akan lebih kreatif lagi dan semakin berkembang.

RW 10 sebagai Kampung Lingkungan memiliki potensi besar dalam hal pengelolaan sampah. Di wilayah ini terdapat tempat pengelolaan sampah “Kemuning 10” dengan kiprahnya yang sudah banyak dikenal. Sampah organic dan non organik disini dikelola menjadi barang yang berguna. RW 10 juga pernah berprestasi dalam pengelolaan lingkungan hingga mencapai 25 besar dalam lomba green and clean beberapa waktu lalu. Ketua RW 10, Joko Sulistiyo menambahkan, selain potensi tersebut di wilayahnya juga terdapat potensi seni yang menjadi unggulan. Kesenian ‘reog’ telah berkembang dan diharapkan nantinya akan menjadi potensi seni yang mampu mengangkat nama wilayahnya. (ism)

abi is agusbudi | Tanya Komputer