Detail Berita
Petani Kota Panen Padi
28-02-2008

PETANI KOTA PANEN PADI

HASIL PANEN LEBIHI TARGET NASIONAL

 

Apa benar ada panen padi di Kota Yogyakarta. Muncul keraguan ketika orang mendengar lontaran pertanyaan seperti itu. Karena kota Jogja memiliki luas wilayah hanya 32.5 kilometer persegi kok masih ada panen padi. Pertanyaan berikutnya, masih adakah petani dan lahan persawahan di kota ketika Jogja menuju kota metropolis dan harga tanah melangit.

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika Walikota Yogyakarta,  H. Herry Zudianto melakukan panen padi di Kecamatan Tegalrejo belum lama ini. Ternyata di kota Jogja masih ada lahan pertanian yang dapat ditanami padi sawah meskipun luasannya sangat sempit.

Menurut Kepala Kantor Pertanian dan Kehewanan Kota Yogyakarta, Ir. Machmud Aswan,  Kota Yogyakarta masih memiliki lahan persawahan seluas 98 hektar dan tersebar di tiga kecamatan yakni Umbulharjo, Kotagede dan Tegalrejo. Menurutnya, di Tegalrejo sendiri  lahan pertanian persawahan seluas 13.8 hektar. Mengingat sempitnya lahan yang dimiliki, Aswan menyarankan agar para petani kota menanam tanaman pertanian yang bernilai ekonomis tinggi.

Dijelaskan pemerintah pusat memberlakukan program nasional yaitu Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dan harus didukung oleh semua wilayah di Indonesia. Program P2BN menetapkan target pencapaian produksi panen padi sebesar 7 ton per hektar. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, pemerintah mengsubsidi bibit padi, pupuk dan juga peralatan pertanian seperti hand tracktor.

Machmud Aswan mengatakan, dibanding dengan target nasional, padi sawah yang dihasilkan petani kota Yogyakarta ternyata jauh melebihi target nasional. ”Dari hasil panen di wilayah Umbulharjo melebihi target nasional. Sewaktu dilakukan penimbangan, hasil yang kita peroleh 8.8 ton per hektar hampir mendekati 9 ton. Ini merupakan hasil yang sangat menggembirakan,” ujarnya. Aswan berkeyakinan panen di Tegalrejo yang luas sawahnya hanya 13.8 hektar juga akan menghasilkan lebih dari target penetapan secara nasional. Walaupun produksi padi di kota Yogyakarta tidak akan memenuhi kebutuhan beras penduduk kota Yogyakarta, namun Aswan merasa gembira karena petani kota yang rata-rata berusia di atas 50 tahun masih memiliki semangat dan keseriusan menjadi petani dan menyukseskan program nasional.

Dikatakan Aswan, untuk menyukseskan program nasional P2BN, pihaknya melakukan metode  penanaman  padi, padi dan padi. Artinya, petani melakukan penanaman tiga kali dalam setahun dengan penanaman padi tanpa diselingi tanaman lain. ”Kalau  dulu metodenya  tanam padi diselingi tanaman lain dan padi lagi. Tapi sekarang padi, padi dan padi,” jelasnya.

Berkenaan kondisi lahan pertanian, Aswan menjelaskan, setiap tahun mengalami penyusutan sekitar 5 persen. Mengingat penyusutan lahan, Aswan menyarankan  para petani memanfaatkan lahan tersisa dengan menanam tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, seperti padi, jagung manis, sayuran dan buah yang organik. Aswan menambahkan setelah program nasional P2BN, Kantor Pertanian dan Kehewanan akan mengarahkan petani ke tanaman pertanian organik. Karena padi atau hasil pertanian organik memiliki pangsa pasar khusus dan bernilai ekonomi sangat tinggi.

Sementara itu Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto sebelum melakukan panen merasa dirinya sangat gembira mendengar bahwa di kota masih ada petani. Walikota mengatakan, sekarang ini profesi petani khususnya di kota besar mulai menurun. Mereka beralih profesi sebagai pedagang kaki lima, klithikan dan sedikit melupakan profesi petani. Walikota menegaskan profesi petani juga merupakan pekerjaan mulia seperti halnya pekerjaan lain, tapi harus dijalankan dengan baik dan profesional.

Mengingat lahan pertanian kota semakin sempit dan harga tanah semakin mahal, Walikota berharap agar para petani tidak cepat tergiur menjual tanahnya. ”Tanah pertanian di kota akan semakin sedikit dan godaan harga tanah semakin mahal. Kalau ada perencanaan matang menjual tanah nggak persoalan. Tapi saya prihatin kalau uang hasil menjual tanah dipergunakan untuk tidak semestinya” tandas Walikota dihadapan para Kelompok Tani Tegalrejo.

Walikota mengajak kepada semua penduduk kota memanfaat lahan sekitarnya untuk menanam tanaman penghijauan yang dapat memberi nilai tambah bagi keluarga. Lebih lanjut dikatakan, pemkot juga telah memberlakukan Peraturan Walikota No. 515/2007 yang subtansinya bahwa setiap persil bangunan baru harus disisihkan sepuluh persen untuk tanaman penghijauan. Dengan peraturan itu diharapkan rumah dan tempat tinggal akan menjadi hunian berwawasan lingkungan, terangnya.

Pada kesempatan itu diserahkan hand tracktor kepada para petani Tegalrejo sumbangan Pemerintah Pusat untuk menyukseskan gerakan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). (@mix)

abi is agusbudi | Tanya Komputer