Detail Berita
FESTIVAL TELA INDONESIA : KETELA BUKAN MAKANAN NDESO
03-10-2011

 

 

Dalam acara Festival Tela Indonesia (FTI) yang diselenggarakan Cokro Tela Cake beberapa waktu lalu, Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, mendeklarasikan dan menandatangani  tonggak kebersamaan masyarakat terhadap pangan lokal tela bersama Sri Paduka Pakualam VIII dan tokoh-tokoh masyarakat di Alun-alun Sewandanan, Pakualaman Yogyakarta.

“Semoga hal ini mewujudkan ketahanan pangan nasional sehingga menjadi bangsa mandiri yang menghidupi masyarakat dengan olahan pangan dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Mengembangkan pangan lokal sekaligus mewujudkan ketahanan pangan nasional,” kata Herry saat mendeklarasikan Daulat Pangan Lokal. Indonesia merupakan negara yang sangat subur dan kaya yang memiliki bahan pangan bervariasi. Keunggulan ini seharusnya membuat pemerintah tidak perlu melakukan impor bahan pangan lain seperti beras atau jenis sembako lainnya. “Acara Ini bisa mendorong masyarakat mengkonsumsi makanan lokal alternatif berbahan dari ketela. Yang jelas tela sekarang bukan makanan ndeso lagi”, tambahnya kemudian saat bersama tamu undangan meninjau dan mencicipi produk para peserta lomba olahan ketela.

Ungkap Direktur Cokro Tela Cake, sekaligus ketua panitia penyelenggara FTI Firmansyah Budi Prasetyo bahwa selama ini singkong atau tela dikenal sebagai makanan ndeso, tetapi makanan tradisional ini jika diolah dengan cermat bisa menjadi bentuk yang modern (cake). Seperti dilakukan Cokro Tela Cake yang sudah merangkul sekitar 25 UKM sebagai mitra bisnis. Varian Cokro  Tela Cake antara lain Tela Cake rasa Blueberry, Cokelat, Mocca,  Strawberry, Keju, dan Kacang Mete, yang nanti diharapkan bisa menjadi alternatif oleh-oleh khas Jogja. Deklarasi Daulat Pangan Lokal menjadi salah satu bagian dari FTI selain grebeg tela dan lomba kuliner yang semuanya berbahan utama singkong/tela.(byu)

abi is agusbudi | Tanya Komputer