Detail Berita
Pemuda Pelopor Kota Jogja Maju Ke Provinsi
19-10-2007

Menghadapi tantangan dinamika pembangunan dimasa mendatang, generasi muda dituntut agar dapat  menumbuh-kembangkan jiwa kejuangan, keperintisan, kepekaan terhadap lingkungan, disiplin dan mandiri serta memiliki sifat tanggung jawab, inovatif, kreatif, ulet, tangguh, jujur, berani dan rela berkorban bagi masyarakat sekitarnya, demikian dijelaskan Kepala Kantor Kesbangpor Kota, Drs. Agus Purwanto. Berkaitan dengan itu Pemkot memberi penghargaan atas kepeloporan  generasi muda usia 17 hingga 35 tahun melalui pelaksanaan Pemilihan Pemuda Pelopor 2007.      

Lebih lanjut dikatakan Agus, pemuda pelopor adalah mereka yang memiliki akumulasi semangat, sikap dan kesukarelawan yang dapat mengubah gagasan menjadi karya nyata. Hasil karya itu harus dilakukan secara konsisten, bermanfaat dan dimanfaatkan masyarakat sehingga mampu memberi nilai tambah dalam kehidupan keseharian, yang pada akhirnya dapat memposisikan diri sebagai panutan atau tokoh masyarakat.

Sementara itu Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda, Wiyoto, BA mengatakan, pemilihan pemuda pelopor tahun ini dilaksanakan berjenjang hingga ke tingkat nasional. Adapun tujuannya memacu peningkatan prestasi para pemuda pelopor terpilih dan mendorong munculnya pemuda pelopor lain dalam berbagai bidang kehidupan.  

Setelah melalui proses seleksi, Tim Yuri Pemilihan Pemuda Pelopor 2007 yang diketuai Drs. Achmad Charris Zubair, terpilih 4 Pemuda Pelopor Kota Yogyakarta yakni  :

Kepeloporan Bidang Pendidikan

1. Ratih Artika Dewanti, Bangunrejo RT.49 RW.11 Kricak, Tegalrejo, Yk

Saat ini masih menempuh pendidikan di ISI, memperoleh predikat pemuda pelopor dengan kegiatan sanggar belajar "Nirmana" yang dibuka di rumahnya. Ratih melakukan bimbingan terhadap anak-anak sekitar untuk belajar bersama, baik pelajaran formal maupun dalam hal berkesenian. Saat ini ada 27 anak yang bergabung di sanggarnya.

2. Yoke Sapto Hudoyo, S.Sn, Jl. Golo Gg. Pulanggeni UH. V/424 a, Umbulharjo, Yk

Mengelola perpustakaan kampung dengan mengajak warga sekitar untuk gemar membaca. Ketika perpustakaan hanya dianggap sebagai benda mati, maka tidak akan banyak orang yang tertarik untuk datang. Namun jika perpustakaan dinilai sebagai sebuah kata kerja, maka akan terciptalah suatu perpustakaan komunitas yang dinamis.

Kepeloporan Bidang Kewirausahaan

3. Muh. Mahmuda, Pathuk NG. I/634, Ngampilan, Yk

Memanfaatkan limbah perca atau "gombalan" kaos katun dijadikan bermacam jenis barang bernilai seni, seperti bed cover, selimut, dll yang dapat memberi tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar khususnya ibu-ibu rumah tangga dengan kegiatan memotong limbah kaos katun menjadi berbagai pola.

Kepeloporan Bidang Seni, Budaya dan Pariwisata

4. Bambang Cipto Santoso, Jl. Achmad Jazuli no. 17a, Kotabaru, Yk

Sebagai seorang pemuda yang mempunyai kecintaan pada kesenian tradisional yakni memainkan instrumen gamelan. Dia sadar betul ketika gamelan hanya digemari kaum tua saja maka akan terputus nilai-nilai pewarisan kesenian tradisional gamelan kepada generasi muda bahkan akan ditinggalkan. Utuk itu dia mengajarkan dan melatih anak-anak sekitar rumahnya memainkan instrumen gamelan. Bahkan saat ini mengajar anak berusia 6 tahun memainkan sebuah instrumen gamelan yang sederhana.

abi is agusbudi | Tanya Komputer