Detail Berita
PEMKOT LUNCURKAN SIOKTB dan TNKTB
10-01-2011

Untuk mendukung pariwisata DIY sekaligus mempertahankan ciri khas Yogyakarta dengan adanya becak dan andong, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan, Rabu (6/10) secara resmi meluncurkan Surat Ijin Operasi Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB) bagi becak dan andong, bertempat di halaman Balaikota. Peluncuran SIOKTB dan TNKTB dilakukan Walikota Herry Zudianto ditandai secara simbolis memberikan SIOKTB kepada pengemudi becak dan memasang TNKTB pada salah satu andong yang hadir dalam acara tersebut.
Walikota berharap becak dan andong yang sudah terdaftar bisa tetap menjadi bagian dari ciri khas Kota Yogyakarta dan mampu menjadi pelayan yang baik serta mampu menjadi ikon serta atraksi demi mendukung pariwisata di Kota Yogyakarta. “Saya berharap para pengemudi becak dan andong mampu menjadi tuan rumah yang baik. Jangan sampai memberi harga nuthuk atau nggabur penumpange. Nek ana pengemudi becak yang tidak baik, laporkan ke Walikota, jangan sampai tamu di Yogyakarta dilayani oleh tukang becak yang tidak bertanggungjawab,” tegasnya.
Kegiatan yang diikuti lebih kurang 100 pengemudi becak dan 10 kusir andong yang beroperasi di wilayah Kota Yogyakarta ini diharapkan dapat mendorong semangat para pengemudi becak dan kusir andong bisa melayani wisatawan dan penumpang dengan baik dan ramah. “Mengapa Jogja masih butuh becak dan andong, karena Jogja sampai ke depan sumber ekonominya adalah dari bidang pariwisata dan sebagai kota pariwisata yang berbasis budaya, becak dan andong menjadi bagian dari pariwisata Jogja,” imbuh Herry Zudianto.
Sementara Ketua Asosiasi Paguyuban Becak Yogyakarta (ASPABETA) Totok mengaku senang dan menyambut baik adanya pemberlakuan SIOKTB dan TNKTB. Dengan adanya surat ijin serta plat nomor bagi becak, setidaknya bisa menekan jumlah becak-becak liar yang kerap kali memasuki Kota Yogyakarta. "Ada sekitar 5.000an becak liar yang tidak terdata di Kota Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka adalah tukang becak musiman, dari Purwodadi, Klaten, Bantul dan daerah lain. Ini kan jelas mematikan tukang becak asli Yogyakarta yang resmi," katanya saat ditemui koran ini.
Totok menambahkan di kawasan Malioboro saat ini tercatat ada 896 tukang becak yang resmi, namun kondisi ini berbeda saat musim liburan yang jumlahnya bisa bertambah menjadi 1.500 orang. Bertambahnya tukang becak liar ini juga diperparah dengan pemberlakuan harga yang semena-mena terhadap penumpangnya. “Saya berharap Perwal Nomor 25 tahun 2010 mengenai kendaraan tidak bermotor, bisa segera dinaikkan menjadi peraturan daerah, sehingga penindakan terhadap becak liar tersebut dapat dilakukan dengan lebih tegas,” ujarnya.(ndre)

abi is agusbudi | Tanya Komputer