Detail Berita
Waspada DBD, Lakukan 3M Plus
18-10-2007

Cuaca yang tidak menentu

"Kondisi cuaca di Kota Yogyakarta yang tidak menentu seperti sekarang ini berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Cuaca yang kadang-kadang hujan kemudian panas atau hujan yang hanya sebentar akan menimbulkan genangan air yang bisa digunakan sebagai media pertumbuhan jentik nyamuk," kata Ka. Sub. Din. Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2&PL) Dinas Kesehatan Kota, dr. Sri Wulanningsih.

Untuk itu, masyarakat diminta waspada terhadap kemungkinan berjangkitnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Genangan air yang berada di sekitar rumah harus dibersihkan sehingga tidak ada kesempatan bagi nyamuk untuk bertelur dan kebersihan di dalam rumah juga perlu dijaga dengan selalu menguras secara rutin bak mandi atau tempat penampungan air.

Jentik Nyamuk Aedes Aegypti

Saat ini, jentik nyamuk aedes aegypti tidak hanya hidup di air yang bersih dan tidak langsung berhubungan dengan tanah, tetapi mereka juga dapat hidup di genangan air kotor. Selain itu, jentuk nyamuk aedes aegypti juga sudah resisten terhadap abate, sehingga jentik-jentik nyamuk itu tidak mati bila hanya dibasmi dengan abate.

Bahkan dari hasil penelitian potensi penularan DBD oleh Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dibeberapa daerah ditemukan telur dan larva nyamuk aedes aegypti telah mengandung virus dengue penyebab DBD, dimana sebelumnya virus ini hanya diketahui berada di tubuh nyamuk dewasa saja. Sehingga tanpa menggigit manusia, nyamuk akan bertelor dan menjadi larva yang sudah terjangkit DBD.

3M Plus

Lebih lanjut dijelaskan, guna memutus rantai persebaran DBD, masyarakat diminta giat dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus yakni mengubur, menutup dan membersihkan tempat-tempat yang menjadi genangan air secara massal serta ikanisasi di bak-bak penampungan air baik diluar ruangan maupu di dalam rumah sehingga diharapkan tidak ada kesempatan bagi nyamuk untuk bertelur. Guna mendukung program tersebut, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga akan lebih mengoptimalkan kerja 61 Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang tersebar di tiap-tiap kelurahan.

Selain itu, pencegahan di sekolah hendaknya semakin dimaksimalkan karena paling sering anak-anak terinfeksi saat berada di sekolah antara pukul 07.00 - 10.00 WIB sedangkan dirumah antara pukul 15.00 - 17.00 WIB yakni dengan melakukan gerakan mengosongkan bak mandi dan wc setelah para siswanya pulang. Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dr. Choirul Anwar telah mengeluarkan instruksi ke semua sekolah yang ada di wilayah Kota Yogyakarta untuk tidak lagi menggunakan bak air di kamar mandi dan meminta sekolah untuk menggunakan kran atau selang air saja untuk kebutuhan kamar mandinya.

Partisipasi Masyarakat

dr. Choirul Anwar menjelaskan guna mencegah dan mengurangi perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti pembaca virus DBD, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama msyarakat harus melakukan gerakan PSN melalui 3M plus terpadu dan berkelanjutan karena nyamuk aedes aegypti tidak efektif jika hanya dibasmi dengan fogging focus atau pengasapan. Gerakan ini dapat dipelopori dan dipimpin oleh Ketua RT maupun Ketua RW sehingga gerakan ini benar-benar massal.

Jika pola PSN ini diterapkan secara menyeluruh baik dilingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan maupun instansi diharapkan kasus DBD di Kota Yogyakarta dapat ditekan. Selain itu, juga dihimbau kepada masyarakat agar membiasakan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan masing-masing dimulai dari lingkungan keluarga.

abi is agusbudi | Tanya Komputer