Detail Berita
KOLOM WALIKOTA : KORUPSI SISTEMIK
04-02-2010

Pemberantasan korupsi di Indonesia akhir-akhir ini seolah mandeg dengan adanya kasus yang menimpa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun kondisi itu hendaknya tidak membuat upaya pemberantasan korupsi di tingkat daerah juga terhenti.
Sebagai kepala pelayan Kota Yogyakarta, saya selalu berusaha untuk melakukan hal terbaik menciptakan good governance melalui transparansi, akuntabilitas dan kepuasan pelayanan. Berbagai upaya telah dilakukan, walaupun berdasarkan survey indeks persepsi korupsi, hasil penilaian Transparency International (TI) Indonesia tahun 2008, Yogya termasuk lima besar dengan nilai 6,43.
Indeks tersebut tidak membuat kita puas terhadap upaya pemberantasan korupsi di Yogyakarta khususnya di birokrasi. Bagi saya pemberantasan korupsi itu susah dilakukan tetapi bisa, tergantung niat dan motivasi kita. Perlu menjadi catatan, pemberantasan korupsi yang kita lakukan adalah memberantas korupsi yang sistemik. Kalau ada satu atau dua individu korupsi di Kota Yogyakarta belum bisa dikatakan pemerintahan jelek. Pemerintahan dikatakan jelek apabila korupsi dilakukan secara sistemik atau berjamaah, artinya seluruh pejabat yang ada di Kota Yogyakarta tahu tetapi mendiamkan hal itu terjadi.
Dalam berbagai kesempatan, bahaya korupsi sistemik ini telah saya utarakan. Untuk melakukan pemberantasan korupsi sistemik itu sendiri perlu adanya pemahaman bersama tentang apa itu pemerintah. Dahulu pemerintah adalah identik dengan raja, dan raja merupakan penguasa identik dengan negara, dan rakyat memberi upeti kepada penguasa tanpa ada ikatan hak dan kewajiban.
Paradigma pemerintah itu sekarang telah berubah. Pemerintah adalah pelayan, rakyat mengabdi kepada negara dan pemerintah mengabdi kepada rakyat. Pada era otonomi daerah seperti sekarang ini, paradigma ini harus benar-benar menjadi mindset atau goodwill setiap kepala daerah. Begitu pula saya, sebagai kepala daerah saya tidak memposisikan sebagai walikota tapi sebagai kepala pelayan masyarakat kota Yogyakarta. Karenanya dalam setiap kesempatan saya katakan bahwa motto Pemkot Yogyakarta adalah Masyarakat Dahulukan Pencapaian Utamakan Untuk Indonesia.
Sistem ketatanegaraan kita saat ini menuntut pemerintah harus lebih menghargai rakyat. Proses reformasi menghendaki pemerintahan yang transparan, responsif dan akuntabel, yang dapat dikritisi, mau diberi masukan dan dapat pula berbuat salah. Mau tak mau pemerintah harus mengikuti gerakan ini, dengan dua opsi yaitu harus dipaksa dari luar atau merubah diri dari dalam. Dari situ saya memutuskan untuk secara internal harus mulai berubah, tidak harus menunggu dipaksa dari luar.
Saya membuka saluran komunikasi yang seluas-luasnya, karena pintu masuk kepercayaan dimulai dari komunikasi. Seperti UPIK (Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan), dimana masyarakat bisa menyampaikan keluhannya melalui telepon, SMS, email maupun datang langsung. Melalui radio saya buka komunikasi Walikota Menyapa, disini masyarakat dapat menyampaikan pendapat dan bertanya jawab secara langsung. Juga kunjungan ke wilayah-wilayah secara rutin, dimana saya bisa bertatap muka langsung dengan mereka sehingga saya merasa lebih dekat.
Tanpa transparansi orang tidak akan berani buka suara. Dengan komunikasi yang baik, pelayanan publik tentu akan lebih transparan dan akuntabel karena kinerjanya akan dipantau dengan mudah oleh masyarakat.
Sejak tahun 2006 Kota Yogyakarta memiliki Dinas Perijinan untuk menyatukan berbagai kewenangan perijinan, memperpendek jalur, persyaratan perijinan yang ganda disederhanakan, rekomendasi juga dibatasi waktu. Dengan begitu akan ada kepastian aturan yang tercermin di Dinas Perijinan. Kalau aparat pemerintah sudah tidak neko-neko, tolong masyarakat juga tidak membujuk petugas.
Jika pemerintah sudah benar, masyarakat jangan justru mengajak salah. Mari kita bersama bangun Yogya ini untuk Indonesia. Karena bola salju ini akan terus menggelinding dan membesar hingga menjadi Yogyakarta baru, Indonesia baru yang lebih adil dan sejahtera. Salam Yogya, Salam Indonesia.(ss)

abi is agusbudi | Tanya Komputer