Detail Berita
Kurangi Korban DBD, Masyarakat Harus Aktif
18-10-2007

Hampir setiap orang tua dibuat panik berlebihan jika anaknya menderita panas dan demam, apalagi tahu tetangga sekitar terkena demam berdarah. Mereka takut anak-anaknya akan bernasib sama dengan anak yang meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes aegypty. Warga masyarakat langsung berbondong-bondong meminta dilakukan fogging. Karena mereka menganggap penyemprotan satu-satunya penyelesaian. Ada kasus demam berdarah harus ada fogging.
Padahal dalam upaya penanggulangan demam berdarah dewasa ini, pengabutan hanyalah upaya penanggulangan sesaat dan tidak memiliki efek pencegahan. Sebab nyamuk yang mati hanyalah nyamuk Aedes aegypty dewasa. Sementara itu, jentik  nyamuk yang hidup di tempat berair tidak tersentuh. Bila pengabutan dilakukan berulang kali dengan frekuensi teratur, memang akan menekan kepadatan populasi nyamuk. Akan tetapi, setelah pengabutan dihentikan, populasi nyamuk akan kembali meningkat. Oleh karena itu, efek pengabutan akan hilang bersamaan hilangnya kabut insektisida yang disemprotkan. Selama penderita DBD (demam berdarah dengue) masih dalam wilayah tersebut, maka nyamuk baru akan muncul dari kepompong tetap mempunyai kesempatan menggigit penderita dan penularannya akan terus berlangsung.
Program penanggulangan DBD selama ini cenderung pada upaya pemberantasan nyamuk dewasa saja. Sementara aspek pencegahan dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) belum mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Justru PSN inilah merupakan kegiatan yang efektif dan efisien, namun belum secara utuh diketahui dan dipahami benar oleh masyarakat. PSN pada dasarnya menganut prinsip pencegahan DBD yaitu mencegah rantai penularan dan memutus daur hidup Aedes aegypty, sehingga menurunkan kepadatan populasi nyamuk. PSN menjadi sangat berarti jika dilaksanakan satu kali seminggu, dengan maksud agar daur hidup nyamuk yang berlangsung 7-10 hari tidak tercapai, sehingga nyamuk tidak sempat menjadi dewasa.
Agenda nasional tentang ”Bulan Gerakan 3M” telah dicanangkan sejak 24 April 1998. Tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi gerakan kebersihan tersebut. Program ”3M” yakni ”menguras”, ”menutup” dan ”mengubur”. Menguras tempat penampungan air secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas, plastik, dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air hujan hingga menjadi sarang nyamuk. Pemkot Yogyakarta menghimbau warga masyarakat dengan menambah 3M Plus. Yaitu ikanisasi di bak mandi, tandon air atau tempat penyimpanan air bersih. Program ini dianggap cukup efektif dan mudah dilakukan untuk memberantas jentik nyamuk.
Dalam pemberantasan sarang nyamuk, hendaknya masyarakat harus proaktif melakukannya. Jika masyarakat bersatu, menjadikan nyamuk sebagai musuh, ada kemungkinan puncak penyebaran DBD tidak akan terjadi. Siapa pun yakin tidak ada yang sulit untuk melakukan kegiatan tersebut. Tidak perlu biaya dan kalaupun harus dikeluarkan hanya sedikit tenaga.

abi is agusbudi | Tanya Komputer