Detail Berita
ANTISIPASI PENYEBARAN VIRUS H1N1 (Flu Babi)
08-06-2009

Belum reda kasus Flu Burung (H5N1) yang telah menjangkiti wilayah tertular sejumlah 31 dari 33 propinsi atau 295 dari 498 kab/kota (Depkes-2009). Saat ini santer pemberitaan mengenai berjangkitnya virus baru, yakni virus H1N1 atau yang lebih dikenal sebelumnya dengan flu babi atau flu Mexico. Penularan virus H1N1 ini bersifat zoonosis (dari babi ke manusia dan dari menusia ke babi), tidak ditularkan melalui konsumsi daging babi. Sampai saat ini belum ada ternak babi yang terinfeksi virus H1N1. Namun ada baiknya mengantisipasi agar virus ini tidak hadir di Yogyakarta dengan melakukan penanganan sebagai mana antisipasi penyebaran virus flu burung H5N1.
Gejala klinis influenza H1N1 pada babi : menurunnya nafsu makan; malas / enggan bergerak karena kekakuan otot dan nyeri otot; demam sampai 41.8 º; batuk-batuk dan bersin, apabila penyakit cukup hebat dibarengi dengan muntah eksudat lender; pernafasan perut; kemerahan pada mata dan adanya cairan mata; cairan leleran dari hidung (ingus); angka kesakitan tinggi, sedangkan angka kematian rendah biasanya kurang dari 1 %. Tergantung infeksi yang mengikutinya, kematian dapat mencapai 1 - 4 %; sembuh secara tiba-tiba biasanya pada hari ke 5 - 7 setelah terlihat gejala klinis. 

Pencegahan penyakit flu babi pada manusia berprinsip pada pemutusan rantai virus tersebut ke manusia.  Beberapa aksi pencegahan dapat dilakukan seperti berikut ini. 
Pertama, pelaksanaan biosekuriti pada peternakan-peternakan babi yang menjadi perantara atau rantai penentu timbulnya spesies virus H1N1. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan mendesinfeksi dan mengawasi semua ternak babi, terutama terhadap gejala-gejala penyakit flu babi. Penemuan terhadap ternak babi yang terkena penyakit harus segera dimusnahkan, dengan mempertimbangkan pemusnahan ternak-ternak di sekitarnya. Program vaksinasi flu babi terhadap ternak-ternak babi juga merupakan tindakan yang dianjurkan. 
Kedua, perhatian terhadap orang-orang pada ring pertama dari ternak babi. Semua orang baik pekerja di peternakan (babi) maupun petugas dibidangnya yang berhubungan langsung (dekat) dengan ternak babi harus diberi perlakuan khusus, misalnya memakai masker hidung dan mulut, dan acap kali mencuci tangan dengan sabun anti septik. 
Ketiga, pengawasan terhadap transportasi. Aktivitas transportasi dapat memindahkan ternak babi maupun manusia (terinfeksi), yang berpotensi menularkan penyakit flu babi baik pada babi maupun pada manusia. Pengawasan seharusnya diperketat pada ternak (babi) dan penumpang yang berasal dari daerah wabah atau sentra-sentra peternakan babi. Alat deteksi suhu badan dapat dipakai untuk mengawasi penumpang dan ternak (babi) dengan jumlah banyak secara efektif.
Keempat, penanganan penderita penyakit flu babi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan dari manusia ke manusia (cluster).  Penularan penyakit ini dari manusia ke manusia diperkirakan lebih mudah dan lebih cepat. Oleh karena itu penanganan penderita flu babi seharusnya dilakukan oleh para petugas kesehatan yang telah diberikan bekal dan piranti bantu untuk keperluan penanganan terhadap penderita. 
Kelima, penyuluhan tentang flu babi dan pencegahanya dilakukan kepada komunitas produsen babi dan masyarakat luas agar pelaporan terjadinya penyakit ini baik pada ternak babi ataupun manusia dapat terdeteksi dan terlaporkan serta tertangani dengan lebih cepat dan benar.(hg)

abi is agusbudi | Tanya Komputer