Detail Berita
TAS DAN SANDAL GAUL ALA KEPARAKAN
26-05-2009

Memasuki wilayah Kelurahan Keparakan, kita akan menjumpai banyak macam home industri atau kerajinan yang unik. Seperti kerajinan berbahan dasar kulit, batik, logam, sampah plastik, limbah kertas, enceng gondok, bahkan industri rumah tangga yang berbentuk makanan. Sebagaimana dikatakan Lurah Keparakan, Rajwan Taufik, SIP. “selain kerajinan yang berbentuk aksesoris, juga ada produksi makanan diantaranya tahu-tempe, lumpia dari rebung, serta kuliner lainya. Terutama di wilayah RW 13 hampir semua warganya mempunyai usaha kerajinan,” tambahnya.
    Seperti Basuki warga Keparakan Kidul MG I / 1159, pengrajin tas dari kulit perca, sejak 1996 mengawali usahanya menggunakan satu mesin jahit, dan kini telah memiliki tujuh mesin jahit empat diantaranya mesin elektrik. Dalam mengerjakan kerajinan, Basuki dibantu lima orang warga sekitar, apabila banyak pesanan, Basuki mengerahkan pemuda sekitar rumahnya. Dalam satu bulan memproduksi 200 – 300 buah tas, baik tas kantor, tas wanita, maupun tas pinggang. ”Saya berharap banyak order agar bisa memberdayakan warga sekitar, sehingga kampung yang ada di bantaran Code ini lebih terangkat ekonominya,” harapnya.
    Menurutnya, sebelum menggeluti kerajinan tas kulit perca, dia memulai usahanya membuat sandal gaul dari kain bathik perca. Seiring perjalanan waktu usaha sandal gaul diberikan kepada kelompok pemuda untuk mengelolanya. ”Saya pindah kerajinan kulit selain murah dan mudah bahan bakunya, juga pemasaranya dan memang cocok dengan hobi saya,” kata bapak tiga anak ini.
Dari 1 kg kulit perca dapat dijadikan 5 - 7 buah tas, dan sisa kulit masih bisa dimanfaatkan pengrajin tali caping. ”Sisa kulit pembuatan tas bisa dimanfaatkan untuk tali caping dengan cara dirangkai menyerupai rantai, juga untuk gantungan kunci dan sovenir pesta pernikahan. Apabila masih ada limbah baru dibakar dan abunya untuk rabuk tanaman,” kata Basuki.
    Hal senada dikatakan Haryanto warga Keparakan Kidul MG I / 1388 RT 55 RW 13 pengrajin sandal bathik gaul. Memulai usahanya tahun 1989 dengan kerajinan kulit berbentuk sandal dan sovenir. Setelah gempa 2006, bapak empat anak ini mulai menggeluti kerajinan sandal bathik gaul. Selain bahan baku mudah didapatkan pemasarannya lebih terbuka untuk jenis kerajinan ini.
Dari 1 kg perca batik dapat dibuat 3 - 5 pasang sandal gaul dengan harga Rp.7 ribu/pasang sandal dewasa. Haryanto mengaku, pada musim liburan merupakan hari baik untuk memasarkan produknya, karena hari-hari biasa dapat terjual 6 kodi/minggu, pada saat musim libur dapat terjual 25 kodi/minggu,” katanya.(and)

abi is agusbudi | Tanya Komputer