Detail Berita
RW 07 COKRODININGRATAN MENUJU KAMPUNG IDEAL
14-04-2009

Menyusuri kampung RW 07 Cokrodiningratan Kecamatan Jetis, tak ubahnya memasuki hunian perkampungan yang nyaman. Di sudut kampung berjajar taman yang asri disusun dalam pot-pot di desain artistik dengan jenis pepohonan yang unik. Ketika memasuki lorong-lorong gang disuguhi taman sederhana tampak indah dengan tanaman bunga dan sayuran. Tak jauh dari taman terletak tong-tong sampah untuk pengolahan sampah. Di sudut gang strategis yang merupakan pusat  interaksi warga, terpasang Papan Koran ”Media Info Kota” sebagai sarana percepatan penyampaian informasi kebijakan pemkot. Rumah-rumah wargapun tampak hijau dan sejuk. Mengutip apa yang dikatakan Walikota Herry Zudianto bahwa ‘sebuah kota yang ideal dimulai dari kampung yang ideal’.            Sudut kampung Jogja dengan lingkungan yang nyaman, hijau, bersih dan indah sudah menjadi kebutuhan bagi warga setempat. Udara yang bersih, taman yang asri, jalanan yang teduh, sungai yang jernih, lingkungan yang tertib dan aman, dengan dukungan seluruh warga kota bukan lagi sebuah mimpi. RW 07 Cokrodiningratan telah mewujudkannya kampung yang ideal menjadi kenyataan. Beberapa waktu lalu koran Media Info Kota bersama rombongan Badan Informasi Daerah dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta bertandang ke kampung yang berpenduduk 300 KK dan terbagi dalam 5 RT ini. Ketua RW 07, Ir. Musmudiyono Msi, berbagi pengalaman, menurutnya ada kewajiban bagi setiap rumah untuk memelihara setidaknya 5 buah pot tanaman hias. “Namun sebagian besar warga memelihara lebih dari itu baik berupa tanaman hias maupun tanaman sayuran,” jelasnya.            Di kampung ini sampah warga juga tidak dibuang begitu saja, sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga dipilah-pilah. Sampah organik dijadikan kompos dan pupuknya dimanfaatkan untuk tanaman warga. Sedangkan sampah non organik didaur ulang dan dimanfaatkan menjadi barang-barang yang berguna. Sehingga lingkungan tetap terjaga kebersihannya.             Menurut Musmudiyono, pada mulanya agak susah mengubah kebiasaan masyarakat tidak membuang sampahnya begitu saja. ”Kami membentuk persatuan pengelolaan sampah dan mengajak setiap keluarga untuk menumbuhkan kesadaran mengelola sampah masing-masing”. Dijelaskan, cara pengelolaan sampah di kampung ini dilakukan dengan memilah sampah anorganik menjadi 3 bagian, yaitu kertas, plastik serta logam. Kemudian sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah-buahan dan sebagainya diolah menjadi kompos dengan cara ditaruh pada komposter yang sudah ditambahkan biostater. Dalam waktu 2 bulan sampah organik akan berubah wujud menjadi kompos dan siap digunakan  untuk pemupukan.

Pihaknya juga pernah mendapat bantuan dari Pemkot Jogja sebesar 15 juta rupiah untuk pengelolaan sampah. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan 1 set komposter bagi tiap-tiap rumah. Pengelolaan dilakukan pada masing-masing RT sedangkan koordinator oleh RW.

Gerakan yang diawali sejak tahun 2005 atas ide mahasiswa KKN ini juga telah melakukan daur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat. Berbagai produk barang kerajinan seperti tas, dompet, sandal, jaket serta payung berhasil dibuat dari sisa bungkus mie instan, pewangi pakaian, sabun cuci dan sebagainya. Hal ini menambah nilai ekonomis dari hasil pemilahan sampah. Produk hasil pengolahan sampah berupa barang kerajinan dan kompos sudah laku dijual di pasaran, sebagian hasil labanya menambah kas kampung. ”Saat ini warga kami sudah merasakan manfaatnya. Kebersihan lingkungan selalu terjaga. Jalan kampung menjadi lebih asri, udara lebih nyaman dan sehat sehingga penyakit juga enggan mampir. Insya Allah kampung kami menjadi kampung yang ideal,” harap Musmudiyono.(ism)

abi is agusbudi | Tanya Komputer