Detail Berita
WARGA COKRODININGRATAN MENGELOLA SAMPAH MANDIRI PERLU KERJA KERAS DAN KESABARAN
03-03-2009

Mengolah sampah secara mandiri memang tidak mudah, harus dengan semangat dan tekad yang kuat. Sebab hal ini menyangkut perubahan sikap dan pola pikir, yaitu semula perilaku buang sampah sembarangan menjadi pola tindak bahwa sampah membawa peluang menambah penghasilan dan kenyamanan lingkungan. Demikian. Ny. Wastijani Suprapto Ketua PKK RW X Cokrodiningratan, Jetis yang sejak 2005 giat memotivasi warga untuk mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.
Dikatakan Bu Prapto begitu biasa disapa, awalnya bahwa untuk menanamkan sikap peduli terhadap sampah dan memanfaatkannya memerlukan kerja keras dan kesabaran, karena menghadapi adanya sikap warga yang menolak.
Ide awalnya ketika ada pertemuan di Balai Cokrokembang pada bulan Oktober 2005 yang dihadiri petugas DKKP saat itu, Camat, Lurah dan perwakilan warga. Dalam pertemuan diinformasikan, pertama : bahwa produksi sampah warga kota setiap hari semakin meningkat sehingga mengakibatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) cepat penuh disamping memerlukan tenaga dan biaya yang besar untuk membersihkannya. Kedua : ternyata sampah dapat sebagai sumber rejeki bagi kita sendiri bila mau mengolahnya sebelum dibuang ke tempat terakhir dimana sampah harus dimusnahkan. Ketiga : dibentuk Tim Pengelola Sampah RW X sekaligus menyepakati mekanisme pengelolaan sampah secara mandiri oleh warga atas bimbingan tim.
Dijelaskan, Tim Pengelola Sampah sebanyak 31 orang (terdiri dari : Ketua RW, 7 orang Ketua RT, 14 Kader RT dan 9 orang Pengurus PKK RW). Mereka diikutkan kursus pengelolaan sampah berbasis masyarakat selama 3 bulan bertempat di Balai RW. Dengan Tim Pembina yang terdiri dari Dinas Kebersihan waktu itu di bantu Sanggar Patmaya dan dari Unilever.
Setelah itu selama kurang lebih 6 bulan melakukan kampanye pengelolaan sampah dengan segala suka-duka, baru tumbuh partisipasi warga untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Terlebih dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta mendapat sarana kebersihan berupa 120 kerangjang sampah. Hingga kini dari 231 Kepala Keluarga (KK) sudah ada 192 KK (83,11 %) yang mengelola sampah di rumah tangganya sendiri.
Pengelolaan sampah mandiri dimulai dari rumah tangga sendiri dengan cara memisahkan sampah menjadi 3 jenis yaitu: Pertama, sampah organik terdiri dari : daun/hijauan dan sisa-sisa sayuran/makanan, dimasukan kedalam tong sampah untuk dijadikan kompos. Dalam prosesnya dibantu oleh Tim/Kader RT dan hasilnya dipakai sendiri atau dijual. Kedua, sampah berguna seperti : plastik, kertas, koran, karton, buku, potongan besi/kawat, kaca/botol dsb. dimasukan ke dalam tas sampah tersendiri. Pada jadwalnya diambil oleh petugas dibawa ke lapak sementara di Balai RW, dipilah dan dipilih menjadi bahan daur ulang untuk aneka produk atau dijual. Pendapatannya dibagi sesuai kesepakatan, antara lain untuk operasional seperti upah tukang sortir dan tukang sampah. Ketiga, sampah lain-lain yang memang harus dibuang seperti rongsokan baju, sepatu, pecahan kaca, plastik, batu, limbah berbau dsb. yang tidak laku dijual atau tidak dapat dikompos, dimasukan kedalam tempat sampah tersendiri untuk di buang oleh petugas sampah.
Untuk informasi Bapak Urip Ketua RW 10 Cokrodiningratan, Telp : (0274)-7185931. atau Ny. Wastijani Suprapto Telp : (0274) 523104. (nrp)

abi is agusbudi | Tanya Komputer