Detail Berita
TEMPURUNG MEMBAWA UNTUNG
03-03-2009

Melihat limbah tempurung (jawa : bathok) berserakan di pasar, menggugah hati seorang Eti Prihutani, wanita kelahiran kota jamu Wonogiri memanfaatkan limbah karas tersebut. Banyaknya limbah bathok, baik di rumah tangga maupun di pasar, akan menjamin kelangsungan usaha kerajinan tempurung yang berada di Jalan Prof. Dr. Sardjito Gang Mayangkara, GK V 513 Rt.17 Rw 04 Terban Yogyakarta.
Bathok selama ini hanya sebagai limbah rumah tangga, ditangan Eti Prihutami disulap menjadi kerajinan yang bermanfaat. Saking banyaknya order yang diterima, wanita yang bersuamikan Totok Sukarjito, mampu memperkerjakan ibi-ibu sekitar rumah tinggalnya dan dapat menambah penghasilan. Ditemui koran ini dia menuturkan ”Disaat banyak permintaan order, saya dapat memberdayakan sekitar 27 ibu-ibu. Khusus untuk ibu-ibu hanya merakit dari bahan yang telah disediakan. Awalnya saya sendiri yang mengajari ibu-ibu, begitu mereka sudah pintar dan permintaan order banyak, saya tinggal mengerjakan saja,” kata ibu tiga anak.
Eti mengatakan, karyawanya selain ada di rumahnya, juga ada yang di Wonogiri. Karena untuk mengolah bahan dasar menjadi barang setengah jadi tidak mungkin dikerjakan di Terban. Selain alasan tempat, bahan baku lebih mudah didapatkan di daerah asalnya. ”Mitra kerja saya yang ada dusun sekitar 6 sampai 8 orang, semuanya mengerjakan bahan kerajinan dari bathok. Masing masing mitrakerja mengerjakan berbeda-beda, mulai dari awal pengahusan bahan dasar, sampai pemotongan dan pengeboran. Pemotongan dari bentuk satu dengan yang lain berbeda pengrajin, harapan saya semakin banyak pengrajin maka akan semakin banyak tenaga yang terserap,” katanya.
Dari bahan mentah menjadi bahan setengah jadi, Eti memberdayakan warga kampung kelahirannya. Baru setelah dari bahan setengah jadi ke barang jadi, dia memberdayakan ibu-ibu warga RT 17 RW 04 Terban Yogyakarta. Hasil kerajinan yang dibuat sanggar kerajinan tempurung ”AKSES Craft” miliknya, ada sekitar 20 macam. Ada berbentuk asbak, aksesoris wanita (bando, jepit, bros, tas) taplak meja, tirai, sampai baju modis kombinasi tempurung dan kain tradisional.
Dicontohkan, taplak meja berukuran 50 cm x 30 cm dikerjakan 4 karyawan, sehari dapat menghasilkan 5 hingga 7 buah taplak dan harganya berkisar antara 50 – 60 ribu rupiah. Satu buah taplak menghabiskan tiga bathok kelapa. Untuk sebuah tirai berukuran 1,5 m dijual 100-150 ribu rupiah. Diceritakan, beberapa tahun lalu pernah mendapat order dari seorang warga negara Irak sejumlah 1500 tas dari bathok utuh. Saat itu saya berpikir apakah mampu mengerjakan pesanan tersebut. Namun setelah kami tawarkan kepada ibu-ibu sekitar, order tersebut dapat kami penuhi, kata wanita berjilbab. Tidak hanya kerajinan bathok saja yang dikerjakan, Ibu Eti bersama suaminya juga membuat kerajinan dari limbah kayu.
Eti berharap, kerajinan bathok yang dibinanya dapat memberdayakan warga sekitar tidak hanya menambah penghasilan, namun bagaimana kerajinan bathok ini dapat sebagai penyangga utama ekonomi rumah tangga. Sehingga derajat kesejahteraan warga sekitar semakin meningkat. Akses Craft, Jl. Prof. Dr. Sardjito Gang Mayangkara, GK V 513 Rt.17 Rw 04 Terban Yogyakarta, Telepon (0274) 9324333, HP-08122782199.(and)

abi is agusbudi | Tanya Komputer