Detail Berita
TEKNOLOGI TEPAT GUNA LUBANG RESAPAN BIOPORI
07-01-2009

TEKNOLOGI TEPAT GUNA LUBANG RESAPAN BIOPORI

 

 

Banjir selalu berpasangan dengan kekeringan. Banjir terjadi dimusim hujan dan kekeringan terjadi pada kemarau. Hal itu terjadi karena sebagian besar air hujan tidak meresap kedalam tanah, namun terbuang menjadi banjir melalui selokan dan jalan lingkungan. Keadaan tersebut diperparah lagi adanya konblokisasi baik untuk jalan maupun halaman yang menyebabkan air hujan tidak dapat terserap ke dalam tanah, ini berarti mengurangi cadangan air bawah tanah. Demikian dikatakan Ir Indarwati Ketua Tim Biopori Jogja kepada koran ini beberapa waktu lalu di Sekretariat, Gang Nakulo No.27. Wirobrajan.

            Menurut Indarwati, pada musim kemarau dimana curah hujan rendah, simpanan air bawah tanah berkurang, penguapan dan pemakaian air terus bertambah. Penyedotan air tanah yang tidak diimbangi dengan penambahan melalui upaya peresapan air, lama kelamaan menyebabkan kelembaban tanah berkurang. Tanah menjadi retak dan dapat mengakibatkan tanah turun atau ambles.

            Suatu teknologi tepat guna mengatasi banjir, sampah dan memelihara kelestarian air bawah tanah, yang mudah murah dan sederhana ditawarkan Tim Biopori Jogja adalah Lubang Resapan Biopori (LRB). Yaitu merupakan lubang silindris dibuat kedalam tanah dengan diameter 10 – 30 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melebihi kedalaman air tanah. Dalam LRB diisi sampah organik dari rumah tangga sehingga dapat mengurangi volume sampah di permukaan/TPS sampah. Sampah tersebut akan menghidupi keanekaragaman hayati/fauna tanah yang merombak sampah organik menjadi kompos atau humus yang tersimpan didalam tanah. Sehingga tanah menjadi subur karena lindi yaitu cairan yang terjadi dalam proses pengomposan dapat langsung diserap tanah. Dalam keadaan ini hayati/fauna tanah akan membuat biopori (terowongan kecil) keseluruh penjuru dan atau akan tertembus akar tanaman, struktur tanah menjadi kuat sehingga tidak mudah retak atau ambles. Dalam keadaan yang demikian pori-pori yang terbentuk dalam tanah menjadi media resapan air tanah yang menjadikan tanah tetap lembab dan subur untuk semua tanaman.

Setelah beberapa saat sampah organik dapat ditambahkan kedalam lubang karena untuk menambah isi yang sudah mengalami pelapukan dan menjadi padat / remah. Kompos dapat dipanen pada setiap akhir musim kemarau sekaligus sebagai cara pemeliharaan LRB.

Membuat LRB yang paling mudah adalah dengan cara datang ke Sekretariat Biopori Jogja untuk minta petunjuk/bimbingan sekaligus beli/sewa/pinjam bur manual berikut  casing/tutup lubangnya. Pembuatan akan menjadi murah apabila dilakukan dalam kelompok RT/RW. Lubang dibuat sesuai standar bur yang ada, mulut lubang diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm setebal 2 cm dan diperkuat dengan casing dan tutupnya, segera isi lubang dengan sampah organik atau sisa-sisa dapur. LRB dapat dibuat di saluran pembuangan air hujan, disekeliling pohon / batas taman atau halaman.

Manfaat LRB antara lain : memelihara cadangan air tanah, mencegah terjadinya keamblesan/keretakan tanah, mengubah sampah organik menjadi kompos, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga keaneka ragaman hayati dalam tanah, mengatasi genangan air, mengurangi volume sampah dipermukaan/TPS sampah, mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan),  mengurangi banjir, tanah longsor dan kekeringan serta menghambat intrusi air laut.

Sekretariat Tim Biopori Jogja : Jl. KP Tendean, Gang Nakulo No.27.Yogyakarta 55252 kontak person : Ir. Indarwati : telp. (0274) 415441 – HP 081578833839, Titus Suwantoro : telp. (0274) 414820, E-mail : bioporijogja_majulancar@yahoo.com, Blog : http://bioporijogja.wordpress.com.

 

 

abi is agusbudi | Tanya Komputer