Detail Berita
WARGA RT 34 RW 08 KRICAK KIDUL GUNAKAN IPAL KOMUNAL
03-11-2008

 WARGA RT 34 RW 08 KRICAK KIDUL

GUNAKAN IPAL KOMUNAL

 

Septictank yang umum dipakai di Indonesia merupakan proses yang sederhana, murah dan masih berlaku di daerah padat penduduk maupun pedesaan. Pemakaian septictank di daerah perkotaan yang padat penduduk menyebabkan pencemaran air bawah tanah. Septictank biasanya hanya menampung air limbah dari toilet dan limbah yang dihasilkan rumah tangga, kemudian dibuang begitu saja tanpa diolah.

            Pengolahan air limbah secara sentralisasi merupakan pilihan tepat bagi masyarakat perkotaan, sekalipun memerlukan biaya yang cukup tinggi, investasi infrastruktur yang besar, pengolahan air limbah secara komunal tetap dibutuhkan.

                        Pengolahan air limbah secara komunal telah dilakukan warga Rt 34 Rw 08 Kricak Kidul Kecamatan Tegalrejo. Pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal ini kerja sama antara LSM Yayasan Dian Desa dengan APEX (Asean People’s Exchange Tokyo) yang didukung pemerintah Jepang, Japan International Cooperation Agency (JICA), yang diprakarsai oleh Pusteklim (Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna Pengolahan Air Limbah Cair)

            Dikatakan Budi Santoso Lurah Kricak, IPAL yang ada di kel. Kricak, berdasarkan pengalaman Pusteklim yang mempergunakan teknologi pengolahan air limbah di Jepang. “Pusteklim berasama masyarakat telah mendesain dan mengembangkan proses baru, kombinasi antara unaerobic dan aerobic. Untuk proses unaerobic menggunakan filter, sedangkan aerobic menggunakan RBC (Rotating Biological Contactor). IPAL Komunal ini dirancang untuk melayani pengolahan air limbah, baik kamar mandi/wc, maupun limbah rumahtangga non minyak, dari 70 KK, saat ini baru menampung sekitar 50 KK,” tandas Budi di ruang kerjanya beberapa hari yang lalu.

            IPAL Komunal yang ada di kel. Kricak memiliki beberapa unggulan dibanding dengan septictank biasa. Keunggulan IPAL ini kualitas enfluenya sudah cukup dan layak untuk dibuang tanpa mengakibatkan pencemaran lingkungan. Proses ini sangat tepat sehingga sesuai dengan kondisi kampung Kricak yang padat penduduk dan hampir tidak ada lahan kosong. Perawatan dan pengoperasiannya sangat mudah dilakukan serta penggunaan listrik dengan watt rendah. ”Pembayaran rekening listrik ditanggung oleh warga yang memasang instalasi di IPAL ini secara kolektif. Besaran iuran disesuaikan dengan kondisi masyarakat,” katanya.

            Bangunan berukuran 4x6x2 m tersebut dimulai September 2007 dengan membangun saluran pipa utama IPAL. Pembangunannya dilaksanakan secara gotong-royong ini dibiayai Pusteklim sebesar Rp. 171 juta untuk pemasangan instalasi. warga dikenai biaya berkisar Rp. 150.000,00 s/d Rp. 300.000,00. sesuai dengan kemampuan ekonomi warga. Bangunan IPAL ini resmi digunakan Juni 2008 dan dapat menampung 35 meter kubik air limbah domestik setiap harinya.(and)

abi is agusbudi | Tanya Komputer