Detail Berita
LEDOK TUKANGAN GELAR SEPEKAN PASAR TEMPO DOELOE
08-09-2008

LEDOK TUKANGAN :

GELAR SEPEKAN PASAR TEMPO DOELOE

  

Wilayah ledok Tukangan beberapa waktu lalu (5/7) terlihat remang-remang hanya diterangi lampu minyak (lampu ublik). Bukan karena giliran listrik atau hemat energi, tapi masyarakat sekitar ledok Tukangan menggelar Pasar Tempo Doeloe. Terasa kental sekali suasana seperti jaman dulu, diterangi lampu ublik/teplok para pedagang menjajakan dagangannya, baik alat rumah tangga maupun makanan khas, mainan anak-anak terbuat dari kayu, bambu, maupun kertas.

Pasar Tempo Doeloe dibuka langsung Walikota Yogyakarta Herry Zudianto. Dalam sambutanya Herry mengatakan, sudah selayaknya generasi muda melestarikan budaya yang sifatnya tradisional. Kampung di kota Jogja bukan indentik kampung yang tidak bisa diberdayakan, dengan segala keterbatasannya harus bisa melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama. Herry berkeyakinan, Jogja yang ideal dimulai dari kampung yang ideal, termasuk Jogja yang asri indah nyaman dimulai dari hal yang kecil termasuk dari kampung.

”Siapa bilang kampung ledok Tukangan identik dengan kekumuhan dan mayarakatnya yang nglokro, justru ledok Tukangan merupakan kampung yang siap maju, cancut gumregut tumandang karyo, rawe-rawe rantas malang-malang putung untuk memajukan kampung. Apapun kondisinya kita tatap masa depan, kita harus menggerakan tenaga, pikiran, dan yang paling penting kebersamaan, gotong royong, ajur-ajer dan saling nyengkuyung,” katanya.

Herry berharap, pasar tempo doeloe hendaknya selalu didukung, karena selain merupakan wajah pariwisata Jogja juga dapat merekatkan tali persaudaraan untuk berbuat yang terbaik mempertahankan budaya maupun tradisi.

Sementara itu Ketua RW 03 ledok, Haryono mengatakan, gelar Pasar Tempo Doeloe dalam rangka FKY ini akan berlangsung selama sepekan. Selain pedagang tradisional juga ada peragaan permainan anak-anak dari ledok, seperti jamuran, engklek, dakon, benthik, egrang, serta cublak-cublak suweng. Penutupannya dipentaskan kethoprak mengambil lakon Geger Ledok Tukangan yang menggambarkan pengentasan kemiskinan serta mengenang tradisi banjir bandang tahun 1984 yang menewaskan sedikitnya dua warga, serta ketinggian air seleher orang dewasa.

abi is agusbudi | Tanya Komputer