Detail Berita
SALAH POLA MAKAN PADA ANAK AKIBATKAN GIZI BURUK
29-07-2008

SALAH POLA MAKAN PADA ANAK

AKIBATKAN GIZI BURUK

 

Balita penderita gizi buruk di Kota Yogyakarta ternyata tidak hanya dari keluarga miskin. Hanya sekitar 20-30 persen yang berasal dari gakin, sebagian besar lainnya justru dari keluarga mampu. Kondisi ini perlu dicermati, karena kasus gizi buruk di kota, lebih banyak terjadi bukan karena masalah ekonomi, tetapi akibat pola asuh ataupun pola makan yang salah pada anak.

Berkait dengan kasus gizi buruk, Ketua TP PKK Kota Yogyakarta, Hj. Dyah Suminar dalam acara pemberian bantuan dari Mirota Kampus bagi balita bergizi buruk di Kecamatan Mantrijeron beberapa waktu lalu (29/04) mengatakan, adanya kasus seperti itu yang perlu mendapat perhatian orang tua adalah bagaimana masalah pola asuh dan pola makan terutama tentang pemberian asupan makanan. Jangan sampai orang tua terlalu sibuk sehingga mengabaikan gizi berimbang pada pola makan anak.

Lebih lanjut dikatakan, di Kota Jogja pada awal tahun 2008 terdapat 236 kasus balita gizi buruk yang didasarkan pada umur dan berat badan si anak, dan belum mempertimbangkan tinggi badan. Untuk itu kedepan diharapkan tinggi badan juga akan digunakan untuk mengukur tingkat gizi anak. ”Dengan pengukuran umur anak, berat badan dan tinggi badan, saya berharap jumlah penderita gizi buruk di kota bisa berkurang sekitar 50 persen hingga akhir tahun 2008 nanti”, tutur Ibu Dyah.

Dicontohkan, seperti di Kecamatan Mantrijeron sendiri terdapat 39 kasus balita gizi buruk, yang diukur dengan umur, berat badan dan tinggi badan bisa turun menjadi 23 kasus. Sedangkan di Kecamatan Pakualaman dari 7 kasus balita gizi buruk turun menjadi 2 kasus. Menurut Ibu Dyah, yang perlu dipahami masyarakat bahwa kasus gizi buruk di kota bukan menjadi suatu yang memprihatinkan, tapi mereka yang terkena itu kondisinya masih bisa beraktivitas seperti biasa, faktor kecerdasannyapun juga lumrah. Hanya saja secara fisik bobotnya kurang dari ukuran yang distandarkan.

Untuk itu Pemerintah Kota Yogyakarta akan terus menggalakkan kader-kader di posyandu, juga program lainnya, baik pada tingkat kota maupun sampai tingkat bawah agar semua itu tersentuh. Intervensi yang dilakukan tidak hanya pemberian makanan tambahan kepada balita gizi buruk, karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah jika pola asuh pada anak dan pemberian makanan kepada balita masih salah. Apalagi pada usia 0 sampai 5 tahun merupakan usia emas sehingga pemberian asupan makanan sangat penting sekali. Karenanya orang tua harus selalu disadarkan agar bisa memberikan asupan gizi beribang kepada anaknya.

Seperti dicontohkan program konsultasi dan pembekalan calon pengantin baru,  bagaimana cara mendidik atau mengasuh pada anak nantinya. Sehingga sejak awal calon orang tua telah memiliki bekal untuk mendidik putra-putrinya bila mereka punya momongan.  

Sementara itu General Manajer Mirota Kampus, Elisa Esnarwati mengatakan  pemberian bantuan bagi balita gizi buruk ini merupakan bentuk kepedulian perusahan kami terhadap kasus gizi buruk pada anak-anak. Semoga dengan program bantuan gizi buruk yang bekerja sama dengan PKK Kota Yogyakarta dapat terus berlanjut. Bagaimanapun juga anak-anak sebagai generasi penerus bangsa perlu mendapatkan perhatian yang serius bagi perkembangan dan pertumbuhannya kedepan.(thos)

abi is agusbudi | Tanya Komputer