Detail Berita
PEMKOT TERAPKAN PROGRAM AIR BERSIH NON PERPIPAAN BERBASIS KOMUNITAS
28-07-2008

PEMKOT TERAPKAN PROGRAM AIR BERSIH

NON PERPIPAAN BERBASIS KOMUNITAS

Untuk menunjang kebutuhan air bersih warga masyarakat, Pemerintah Kota Yogyakarta mengembangkan program penyediaan sarana - prasarana air bersih non perpipaan berbasis komunitas. Tujuannya untuk memperbaiki prasarana sanitasi berupa MCK (mandi, cuci, kakus) umum dan melengkapi dengan sumber air bersih / air minum bagi masyarakat di wilayah - wilayah kelurahan. Untuk penjernihan air menggunakan water purifier berupa alat ultrafiltrasi. Alat ini berfungsi mensterilkan air sumur dan menahan bakteri sehingga air dapat langsung diminum tanpa harus direbus. Juga alat ini mempunyai efek menghilangkan sedimen menjadikan air lebih jernih, menurunkan kandungan besi dan bakteri coli. Sehingga penyediaan air bersih dan sehat, bahkan air siap minum di masyarakat dapat tercukupi. Untuk keamanan alat ini ditempatkan pada rumah water purifier yang terbuat dari besi.

Program penjernihan air berbasis komunitas ini merupakan yang pertama di Indonesia termasuk dalam hal terapan teknologi menggunakan alat ultrafiltrasi yang dihasilkan oleh anak bangsa. Disamping itu keterlibatan aktif masyarakat juga terlihat mulai dari persiapan hingga pemeliharaannya. Program ini diharapkan meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di wilayah komunitas berpenghasilan rendah dan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan akan air bersih yang terjangkau oleh masyarakat.

Kepala Dinas Kimpraswil Kota Yogyakarta, Ir. Eko Suryo Maharsono menjelaskan, program ini berbasis masyarakat karena dari tahap persiapan, pengoperasionalannya maupun pemeliharaannya melibatkan masyarakat sebagai pemanfaat/pemakai. Saat ini di wilayah Kota Yogyakarta terdapat sekitar 716 MCK umum, yang sudah terpasang alat ultrafiltrasi ada 124 dan kekurangannya diusahakan tuntas pada tahun 2010. Kami juga berencana menuntaskan keramiksasi KM/WC umum yang ada, saat ini sekitar 355 unit MCK telah dikeramik, sisanya diusahakan selesai pada tahun 2009. Setiap unit MCK yang telah lengkap dengan keramik dan alat ultrafiltrasi menghabiskan dana sebesar 22 juta rupiah. Sedangkan alat ultrafiltrasinya sendiri seharga 15 juta per unit dengan kapasitas 300-400 liter/jam.

Saat ini setiap MCK lengkap dengan alat ultrafiltrasi, dapat melayani 10-20 Kepala Keluarga. Pengelolaan MCK plus diserahkan masyarakat melalui kelompok penerima manfaat dan pengguna di lingkungan masing-masing. Termasuk pembentukan dan kepengurusan kelompok pengelola pengguna dan pemanfaat diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Kepengurusan mempunyai tugas antara lain menginventarisir pemakai MCK, pemakai dan pengguna water purifier, menjadwal piket kebersihan MCK dan piket pengoperasian water purifier, menarik iuran yang digunakan untuk pembayaran listrik dan pemeliharaan.

Seperti salah satu MCK yang terdapat di RT 42 RW 09 Kampung Mancasan Kelurahan Wirobrajan dirasakan sangat bermanfaat oleh warga sekitar. Ketua RT setempat sekaligus pengurus ‘kelompok penerima manfaat’, Wasono (63 th) mengatakan, “Sejak dipasang 2 bulan lalu, alat ini sangat bermanfaat bagi kami. Ada 44 KK di wilayah RT kami merasa tertolong dengan tersedianya air bersih siap minum yang sangat murah bahkan gratis. Setiap bulan kami hanya mengeluarkan 22 ribu untuk biaya listrik yang ditanggung dari iuran warga.” (isevhg)

abi is agusbudi | Tanya Komputer