Detail Berita
DITEMUKAN PRODUK TIDAK SESUAI KEMASAN
19-04-2008

Monitoring Pertanwan, Perindagkop, POM
DITEMUKAN PRODUK TIDAK SESUAI KEMASAN
 
            Tim koordinasi pemantauan peredaran makanan yang terdiri atas unsur Disperindagkop Kota Yogyakarta dan Provinsi, Kantor Pertanian dan Kehewanan Kota, Dinas Ketertiban Kota serta Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menggelar operasi di sejumlah supermarket di Kota Jogja, Sabtu (29/9). Supermarket yang menjadi sasaran  adalah Diamond, Superindo Jalan Solo serta Hero Swalayan. Dari hasil operasi tersebut ditemukan beras berkutu serta produk-produk yang kemasannya tidak sesuai berat semestinya.
Menurut keterangan Sumijanto dari PPNS perlindungan konsumen Disperindagkop Provinsi, sangat tidak logis jika sebuah supermarket sampai menjual beras berkutu. Dari hasil pencermatan, beras jenis Rojolele Delanggu yang ditemukan di salah satu supermarket di Jalan Adisucipto tersebut, juga tidak memenuhi ukuran berat yang semestinya. Pihaknya pun langsung meminta kepada pihak supermarket bersangkutan untuk menarik produk tersebut. "Mestinya kalau dalam kemasan tercantum ukuran 5 kilogram, ya kalau ditimbang diatas itu karena masih dikurangi dengan berat kemasan," ujar Sumijanto.
Sementara nampak turut serta dalam rombongan, Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet)  dan Perlindungan Mutu Konsumen, Kantor Pertanian dan Kehewanan Kota Yogyakarta, Ir. Sri Panggarti, Kasi Pengawasan Disperindagkop Kota, Imam Nurwachid dan lain sebagainya. Dalam kesempatan ini, tim juga menemukan puluhan minuman suplemen dengan kemasan yang salah. "Kemasannya mestinya bertanda SD (suplemen buatan dalam negeri) dan bukannya MD (makanan buatan dalam negeri)," kata Sumijanto. Pasalnya produk tersebut masuk dalam jenis suplemen. Pemerintah pun terhitung sejak Juli tahun ini telah menetapkan aturan untuk menarik berbagai produk suplemen yang masih menggunakan kemasan bertanda MD.
Dari hasil monitoring kali ini, menurut Sri Panggarti pihaknya tidak menemukan adanya produk daging kemasan yang terindikasi mengandung daging sapi gila maupun penyakit mulut dan kuku (PMK). "Kebetulan produk yang kita temukan semuanya buatan dalam negeri, jadi relatif aman. Ini yang mesti diperhatikan oleh konsumen, kalau produk tersebut daging impor, dicermati dulu asal dagingnya darimana. Pasalnya ada beberapa negara yang daging sapinya memang terindikasi mengandung daging sapi gila maupun PMK sehingga tidak diperbolehkan untuk diedarkan," ujarnya.
Ditambahkan Panggarti, untuk daging yang dipajang (display) suhu minimum minus 4 derajat celsius, sedangkan suhu untuk almari pendingin minus 18 derajat celsius. Untuk daging impor daya tahannya setelah masuk ke Indonesia adalah 8 bulan sedangkan jeroan 6 bulan. “Sebenarnya untuk mengetahui secara dini apakah ini daging glonggongan atau bukan kita bisa memperhatikan ciri-cirinya. Daging sapi glonggongan warna dagingnya pucat dan berarir, sedangkan untuk daging ayam warnanya lebih gelap dari daging yang segar,” ucapnya.

abi is agusbudi | Tanya Komputer