Detail Berita
IMUNISASI POLIO ORAL/TETES DIGANTI CARA INJEKSI
19-04-2008

IMUNISASI POLIO ORAL/TETES DIGANTI CARA INJEKSI

 
Imunisasi adalah cara yang mudah, aman dan efektif untuk memproteksi anak-anak melawan penyakit tertentu. Bahaya penyakit-penyakit tersebut jauh lebih besar daripada resiko imunisasi yang amat kecil.
               Pelaksanaan imunisasi polio yang selama ini diberikan dengan cara oral / tetes (Oral Polio Vaccine/OPV) digantikan dengan menggunakan cara injeksi / suntik (Inactivated Polio Vaksin/IPV). Launching pengggunaan IPV dilakukan di Puskesmas Jetis belum lama ini (03/09) ditandai dengan pemberian imunisasi polio suntik pada balita oleh dr. Suroyo Mahfud, SpA disaksikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dr Choirul Anwar, dan Kabid Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Propinsi DIY dr Sarminto, M.Kes dan dihadiri sejumlah masyarakat. Imunisasi dengan cara injeksi akan diberikan kepada 6.000 anak usia dibawah 1 tahun di wilayah kota.
               Dr. Chorul Anwar mengatakan, ”ditargetkan semua bayi umur 0 - 1 tahun di wilayah kota akan mendapakan imunisasi ini secara gratis sebanyak 4 kali yaitu pada usia 2, 3, 4 dan 9 bulan. Pemberian IPV dapat ditunda jika balita menderita sakit berat. Balita yang sebelumnya telah mendapatkan OPV tidak perlu mengulangi imunisasi”. Tempat pelayanan imunisasi polio IPV dilakukan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit, Dokter Umum, Dokter Anak dan Bidan Praktek Swasta. ”Imunisasi ini tidak bisa diberikan di Pos PIN karena harus dilakukan dengan injeksi oleh tenaga kesehatan,” lanjut Choirul.      Menurut Choirul, OPV dan IPV sama-sama efektif untuk memberikan kekebalan / imunitas terhadap infeksi polio. OPV merupakan vaksin polio yang berasal dari virus polio hidup yang dilemahkan, imunisasi OPV diberikan secara oral/tetes. Sedangkan IPV adalah vaksin polio yang merupakan virus polio dimatikan (diinaktivasi) yang diberikan secara injeksi.
               ”Cara injeksi / IPV ini lebih aman daripada cara oral / OPV, pada IPV vaksin polio yang menggunakan virus polio tidak aktif dimasukkan ke dalam tubuh dengan disuntikkan. Kalau cara oral tetesan yang diberikan akan turun ke perut dan keluar lagi melalui kotoran. Kemungkinan dalam kotoran tersebut masih ada virus yang hidup dan bisa berkembang biak menjadi virus polio liar yang membahayakan,” kata Choirul
Walaupun sangat jarang terjadi, karena berupa virus hidup yang dilemahkan, OPV mempunyai potensi untuk menimbulkan : VAPP dan VDPV. VAPP (Vaccine-associated Paraltic Poliomyelitis), adalah suatu keadaan kelumpuhan otot yang disebabkan / dikaitkan dengan vaksin OPV. Karena keadaan tertentu pada individu (misal gangguan kekebalan) virus yang dilemahkan (OPV) dapat menyebabkan kelumpuhan.VDPV (Vaccine-derived Polio Virus) merupakan virus polio turunan dari vaksin OPV. Vaksin polio OPV mengalami perubahan/mutasi menjadi seperti virus polio aslinya. 
Sebaliknya IPV tidak mempunyai potensi VAPP dan VDPV. 
        Sementara itu menurut dr Sarminto, M.Kes ”Sesuai standar WHO, Yogyakarta sudah memenuhi syarat untuk menggunakan imunisasi polio IPV, karena Yogyakarta merupakan satu-satunya Propinsi di Indonesia yang cakupan imunisasinya sudah lebih dari 95%. Bahkan sepuluh tahun terakhir tidak ditemukan kasus penyakit polio samasekali. Tingkat antibodi balita di Yogyakarta sangat tinggi, surveilans AFP menunjukkan hasil yang sangat baik yaitu Non AFP Rate Tahun 2006 2,38/100.000 populasi kurang dari 15 tahun. Dan yang terpenting Yogyakarta mempunyai sarana pengumpulan limbah modern di sewon (menampung lebih dari 29 % limbah populasi di DIY) untuk memantau sirkulasi virus polio liar di lingkungan. (isma)

 

Polio merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan kelumpuhan

abi is agusbudi | Tanya Komputer