Detail Berita
PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI
08-04-2008

PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI

IBU – IBU PKK KOTA DIKENALKAN  ”TAKAKURA”

 

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Yogyakarta bertindak nyata untuk kearifan lingkungan. Mereka berperan aktif mengurangi isu publik pemanasan global dengan melakukan pengelolaan sampah. Ketua TP PKK Kota Yogyakarta Hj Dyah Suminar mengajak kepada seluruh ibu-ibu di Kota Yogyakarta untuk mengolah sampah rumah tangganya secara mandiri. “Mari kita lakukan pemilahan sampah rumah tangga. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk membiasakan memilah produksi sampahnya,” ajak Dyah Suminar dalam acara Sosialisasi Dan Teknis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Gedung PKK Balaikota, baru-baru ini. “Dimulai dari kita, gunakan bahan-bahan yang bisa didaur ulang, minimalkan penggunaan produk kemasan plastik, styrofoam atau kaleng untuk kebutuhan rumah tangga,” lanjut Dyah.

Sosialisasi tersebut dilakukan guna mendukung terwujudnya Jogjaku Bersih dan Hijau, diikuti ratusan ibu-ibu rumah tangga se-Kota Yogyakarta. Diharapkan pula melalui kegiatan tersebut terjadi pemahaman kesadaran ibu-ibu rumah tangga untuk mengelola sampah secara mandiri.

Sumber produksi sampah paling besar berasal dari sampah rumah tangga yaitu mencapai 80%. Secara sederhana pengolahan sampah dapat dilakukan dengan cara memilah sampah organik dan anorganik dalam rumah tangga maupun komunal di tingkat lingkungan. Peran serta masyarakat sangat penting bagi peningkatkan efisiensi pengelolaan persampahan. Program yang dijalankan pemerintah tidak akan ada artinya tanpa dukungan masyarakat.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Ir Suyana, mengatakan, produksi sampah di kota sekitar 350 ton per hari. Tahun 2008 pemkot mentargetkan 20 % pengolahan sampah dapat dikelola secara mandiri. Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Piyungan mampu menampung sampah diperkirakan akan efektif hingga tahun 2012. Sehingga untuk meminimalisir sampah dilakukan pengelolaan secara mandiri sebagai alternatif untuk mengantisipasi hal tersebut. Tindakan demikian dapat mengurangi sampah yang dibuang ke lingkungan. “Minimalisasi sampah bermanfaat mengurangi biaya angkut, memperpanjang umur TPSA, dan mencegah pencemaran lingkungan. Selain itu sampah juga mempunyai nilai ekonomis apabila dikelola dengan baik,” kata Suyana. Lebih lanjut Suyana menghimbau kepada masyarakat agar membuang sampah sesuai jam pembuangan. “Buanglah sampah mendekati waktu pengambilan atau sebelum jam 7 pagi dan biasakan berperilaku mengurangi sampah”. Masyarakat masih menganggap tanggungjawab sampah hanya sebatas mata memandang. Artinya masyarakat hanya akan peduli sampah selama masih di persilnya / wilayahnya saja. “Sampah merupakan tanggungjawab penghasil sampah sampai pemusnahannya,” tandas Suyana.

             Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan “Metode 3 R” (Reduce / mengurangi, Reuse / menggunakan kembali, Recycle / mendaur ulang) oleh masyarakat secara mandiri. Sampah dipilah berdasarkan jenisnya yaitu sampah organik/sampah basah dan sampah anorganik. Sampah organik seperti sisa-sisa makanan, sayuran, daun-daunan dan kulit buah diolah lebih lanjut untuk dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, kaca dan logam akan bernilai ekonomis atau diberikan kepada pemulung.

            Pada kesempatan itu Ir Suyana mengenalkan ”TAKAKURA”, yaitu alat komposter skala rumah tangga menyerupai keranjang untuk pengelohan sampah organik menjadi kompos. Keranjang Takakura bentuknya praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga aman digunakan dalam rumah tangga. Sampah organik dimasukkan ke dalam keranjang Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan.(isma)

abi is agusbudi | Tanya Komputer